INDOZONE.ID - Rektor Universitas Gadjah Mada Prof. Ova Emilia menggelar pertemuan bersama Rektor Universitas Jenderal Soedirman Prof. Dr. Akhmad Sodiq dan Rektor Universitas Diponegoro Prof. Suharnomo di ruang sidang pimpinan Gedung Pusat UGM pada 13 Februari 2026 silam.
Pertemuan yang turut dihadiri perwakilan Bappenas ini membahas kesiapan sistem pengelolaan proyek Sekar Purwo, yakni pusat inovasi kesehatan terintegrasi yang menjadi hasil kolaborasi rumah sakit perguruan tinggi negeri dari ketiga kampus tersebut.
Agenda tersebut difokuskan pada upaya memastikan kesiapan tata kelola dan keberlanjutan program Sekar Purwo sebagai bentuk kerja sama strategis lintas perguruan tinggi.
Proyek ini diharapkan mampu memperkuat layanan kesehatan berbasis riset sekaligus mengintegrasikan pengembangan teknologi medis, pelayanan klinis, serta inovasi akademik dalam satu ekosistem terpadu.
Baca juga: Kisah Sukses Mahasiswa UMS, Budidaya Madu Klanceng hingga Raup Omzet Rp60 Juta
Rumah Sakit Akademik atau rumah sakit perguruan tinggi negeri (RS PTN) selama ini menjadi salah satu pilar penting dalam pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat.
Keberadaan RS PTN tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas pelayanan kesehatan, tetapi juga berperan sebagai pusat pendidikan tenaga medis, pengembangan riset kesehatan, serta inovasi teknologi di bidang kedokteran. Peran tersebut menjadikan rumah sakit perguruan tinggi memiliki fungsi strategis yang melengkapi sistem layanan kesehatan nasional.
Rektor UGM, Prof. Ova Emilia, menegaskan pentingnya kolaborasi erat antara pemerintah dan kalangan akademisi dalam membangun infrastruktur kesehatan yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.
Ia menjelaskan bahwa proyek Sekar Purwo berpotensi menjadi model awal pengembangan pusat layanan kesehatan berbasis kolaborasi antarperguruan tinggi.
Program ini dirancang untuk berkembang secara bertahap dan diharapkan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah, khususnya dalam peningkatan kualitas pelayanan medis dan riset kesehatan.
Proyek Sekar Purwo sendiri didanai melalui skema Pinjaman dan Hibah Luar Negeri (PHLN) yang diajukan secara bersama oleh ketiga universitas dan mulai dijalankan sejak awal tahun 2026.
Program ini mencakup pembangunan berbagai fasilitas pendukung, seperti gedung pelayanan kesehatan, pusat penelitian dan pengembangan, sistem basis data terintegrasi, serta penyediaan peralatan medis inovatif yang masih berada pada tahap pengembangan sebelum uji coba massal.
Pertemuan pimpinan ketiga universitas tersebut juga bertujuan merumuskan mekanisme tata kelola yang efektif agar kolaborasi dapat berjalan secara berkelanjutan
Wakil Rektor Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama UGM, Dr. Danang Sri Hadmoko, menambahkan bahwa proyek Sekar Purwo akan melibatkan kerja sama internasional dengan sejumlah perguruan tinggi di Inggris,
Secara regional, proyek Sekar Purwo menargetkan pelayanan kesehatan bagi sekitar 37 juta penduduk di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Dengan cakupan layanan yang luas tersebut, sinergi antara ketiga perguruan tinggi menjadi faktor krusial untuk menjamin kelancaran pengelolaan program sekaligus memastikan manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat.
Melalui kolaborasi ini, standar layanan medis yang diberikan rumah sakit perguruan tinggi diharapkan mengalami peningkatan signifikan, baik dari sisi kualitas pelayanan, efisiensi operasional, maupun kapasitas riset kesehatan..
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ugm.ac.id