Kategori Berita
KANAL
REGIONAL
Rabu, 18 FEBRUARI 2026 • 20:20 WIB

UNNES Bawa Batik Lokal Mendunia, Peserta Internasional Ikuti Workshop Ecoprint ICD 2026

UNNES Bawa Batik Lokal Mendunia, Peserta Internasional Ikuti Workshop Ecoprint ICD 2026Universitas Negeri Semarang memperkenalkan batik di ajang International Community Development (ICD) 2026 (unnes.ac.id)

INDOZONE.ID - Universitas Negeri Semarang (Unnes) kembali menghadirkan program pengabdian dengan mengenalkan kearifan lokal lewat workshop membatik dalam ajang International Community Development (ICD) pada 6 Februari 2026 silam.

Acara yang digelar di Desa Ngesrepbalong, Kabupaten Kendal ini dihadiri puluhan peserta internasional yang berasal dari Denmark, Belgia, Filipina, Kenya, Zimbabwe, Afghanistan, Nigeria, Tanzania, Rwanda, Yaman, Uganda, Kanada, Gambia, Sierra Leone, serta Pakistan.

Mereka terlibat langsung dalam pembuatan batik ramah lingkungan dengan memanfaatkan daun dan bahan alami yang diambil dari lingkungan sekitar.

Menurut Kepala Kantor Internasional dan SDGs Center UNNES, ICD 2026 merupakan kegiatan yang dipelopori oleh UNNES untuk membuka jejaring internasional dan menjalankan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

Baca juga: Perbedaan Sumber Primer dan Sekunder dalam Penelitian: Simak, Jangan Sampai Ketukar Lagi!

Keberagaman latar belakang peserta mencerminkan semangat inklusivitas dan kemitraan internasional yang terus diperkuat UNNES melalui program-program kolaboratif. Peserta tidak hanya mengikuti kegiatan budaya, namun juga terlibat langsung dalam pembelajaran berbasis masyarakat yang menekankan praktik keberlanjutan dan kepedulian sosial,” tutur Alfath Yanuarto.

Di sisi lain, Ketua Program EQUITY UNNES menilai terselenggaranya ICD 2026 juga berkat inisiatif pemerintah Indonesia yang sedang gencar meningkatkan kualitas pendidikan, penguatan kolaborasi global, dan konstribusi nyata perguruan tinggi di masyarakat.

Program ICD 2026 menjadi ruang pembelajaran lintas budaya yang memperkuat kerja sama internasional, sekaligus memberikan dampak positif bagi masyarakat lokal. Saya berharap program ini menjadi pengalaman bermakna dan berkesan bagi seluruh peserta serta mempererat persahabatan internasional,” ujar Prof. Sugianto.

Setelah melakukan prosesi pembukaan di kampus, acara dilanjutkan di Desa Ngesrepbalong, Kabupaten Kendal. Desa tersebut dipilih karena terkenal memiliki kekayaan potensi sumber daya alam, nilai budaya, hingga kearifan lokal yang beragam.

Baca juga: Dugderan Bukan Sekadar Tradisi: Ini Pandangan Dosen FIB Undip Terkait Sinergi Budaya dan Spiritualitas Menyambut Ramadan

Selain workshop membatik ecoprint, peserta juga disuguhi berbagai kegiatan bervariatif seperti tea blending class, janur weaving workshop, serta pemutaran film bertema konservasi guna meningkatkan kesadaran akan pentingnya menerapkan praktik kerja yang ramah lingkungan.

Sementara itu, kelas pembuatan gula aren, kelas aksara Jawa, dan sesi meditasi, juga dihadirkan untuk membantu proses belajar yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari sekaligus mendukung pelestarian potensi yang desa miliki.

Agenda kemudian diakhiri dengan pengabdian masyarakat, di mana peserta turun langsung sebagai tenaga pengajar Bahasa Inggris bagi anak-anak dan remaja di desa.

Melalui rangkaian kegiatan ini, ICD 2026 diharapkan dapat memperkuat kontribusi Universitas Negeri Semarang dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, terutama pada bidang pendidikan, pertumbuhan ekonomi masyarakat, penguatan desa, konsumsi dan produksi berkelanjutan, serta kolaborasi global.
 
 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Unnes.ac.id

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

UNNES Bawa Batik Lokal Mendunia, Peserta Internasional Ikuti Workshop Ecoprint ICD 2026

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!