Kategori Berita
KANAL
REGIONAL
Selasa, 17 FEBRUARI 2026 • 10:00 WIB

Dugderan Bukan Sekadar Tradisi: Ini Pandangan Dosen FIB Undip Terkait Sinergi Budaya dan Spiritualitas Menyambut Ramadan

Dugderan Bukan Sekadar Tradisi: Ini Pandangan Dosen FIB Undip Terkait Sinergi Budaya dan Spiritualitas Menyambut RamadanKiri – Fajrul Falah, Dosen FIB Undip Undip dan Kanan – Ilustrasi Dugderan (Kiri - ZCreators @Aulia Faradiva dan Kanan @menpan.go.id)

INDOZONE.ID - Menjelang datangnya bulan Ramadan, masyarakat Indonesia selalu punya cara khas untuk menyambutnya.

Bukan cuma lewat persiapan ibadah atau berburu kebutuhan puasa, tapi juga melalui tradisi yang sudah hidup turun-temurun. Salah satu tradisi yang paling ikonik adalah Dugderan di Kota Semarang.

Bagi sebagian orang, Dugderan mungkin cuma dikenal sebagai pesta rakyat atau kirab budaya yang meriah.

Tapi menurut pandangan Fajrul Falah, S.Hum, M.Hum., dosen dari FIB Undip di Universitas Diponegoro, Dugderan sebenarnya jauh lebih dalam dari sekadar perayaan tahunan.

Tradisi ini adalah ruang pertemuan antara nilai budaya dan spiritual yang menyatu dalam kehidupan masyarakat.

Lewat perspektif akademik sekaligus refleksi sosial, dosen FIB Undip melihat Dugderan sebagai simbol bagaimana masyarakat menjaga identitas budaya sambil tetap beradaptasi dengan zaman modern.

Tradisi ini bukan hanya tentang masa lalu, tapi juga tentang bagaimana budaya terus hidup di masa kini dan masa depan.

Baca juga: Keren! FIB Undip Juara 1 Realisasi RGA per Dosen di Anugerah Capaian Kinerja Undip 2025

Asal Usul Dugderan sebagai Media Komunikasi Publik

Kalau ditarik dari sisi bahasa, Dugderan berasal dari bunyi “dug” yang merujuk pada suara bedug, dan “der” yang menggambarkan dentuman meriam. Dulu, bunyi ini bukan sekadar seremoni, tapi bentuk komunikasi publik tradisional.

Pada masa ketika listrik belum ada, apalagi internet dan media sosial, masyarakat membutuhkan penanda bersama untuk mengetahui waktu penting.

Bunyi bedug dari Masjid Agung Semarang dan dentuman meriam menjadi penanda resmi bahwa Ramadan segera dimulai.

Akhiran “-an” pada kata Dugderan menjadikannya sebagai peristiwa kolektif. Artinya, bukan hanya bunyi, tapi sebuah momentum sosial yang dirasakan bersama oleh seluruh masyarakat.

Sejarah Panjang Tradisi yang Masih Bertahan

Secara historis, Dugderan sudah berlangsung sejak tahun 1881. Tradisi ini diprakarsai oleh Raden Mas Tumenggeng Aryo Purboningrat, yang saat itu menjabat sebagai Bupati Semarang.

Tujuan awalnya cukup sederhana tapi penting: menyamakan persepsi masyarakat tentang awal Ramadan. Pada masa itu, perbedaan metode penentuan awal bulan sering menimbulkan kebingungan. Dugderan hadir sebagai solusi sosial sekaligus simbol kebersamaan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Dugderan Bukan Sekadar Tradisi: Ini Pandangan Dosen FIB Undip Terkait Sinergi Budaya dan Spiritualitas Menyambut Ramadan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!