INDOZONE.ID - Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PGPAUD) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) angkatan 2025 melakukan aksi nyata dengan menuju berbagai sekolah di Bandung.
Mereka melakukan observasi lapangan secara langsung untuk mendalami psikologi perkembangan anak sebagai bagian dari mata kuliah Psikologi Perkembangan Anak I.
Baca juga: Tak Gengsi Turun ke Jalan, Mahasiswa Psikologi UGM Menjadi Ojek Online demi Bayar Biaya Kuliah
Pendekatan ini menerapkan metode experiential learning, jadi belajar tidak hanya dari teori di buku teks, tetapi juga melalui interaksi langsung di lapangan.
Lokasi pengamatan mencakup berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Raudhatul Athfal (RA), hingga tingkat awal Sekolah Dasar (SD).
Langkah tersebut diambil agar mahasiswa sebagai calon pendidik mampu melihat bagaimana teori perkembangan anak diterapkan dalam dinamika yang sebenarnya di dunia pendidikan.
Berdasarkan hasil pengamatan, mahasiswa menemukan bahwa setiap anak memiliki potensi yang beragam, baik dari sisi kecerdasan kognitif, kematangan emosional, maupun kemampuan sosial.
Baca juga: Petakan Potensi Risiko Penyakit, Mahasiswa KKN Undip Bantu Warga Ciptakan Lingkungan Sehat
Di tingkat PAUD dan RA, para guru terlihat sangat responsif dalam menghadapi perbedaan karakter setiap siswa.
Beberapa strategi pengajaran yang menonjol meliputi penerapan rutinitas harian untuk melatih disiplin, pemberian instruksi secara bertahap agar mudah dipahami anak, serta pembangunan ikatan emosional yang hangat untuk menciptakan rasa aman.
Selain itu, penguatan nilai moral juga dilakukan melalui pembiasaan doa dan praktik ibadah sederhana dalam kegiatan sehari-hari.
Tak hanya di jenjang PAUD, pengamatan di kelas awal Sekolah Dasar juga memberikan temuan yang menarik bagi para mahasiswa.
Baca juga: Dijuluki "The Next Einstein" oleh Harvard, Yuk Intip 4 Fakta Menarik Sabrina Gonzalez Pasterski
Mereka mencatat adanya variasi tingkat kepercayaan diri siswa, seperti sebagian anak tampil sangat berani, sedangkan lainnya masih membutuhkan dorongan ekstra untuk berani mengutarakan pendapat.
“Interaksi guru yang hangat dan metode pembelajaran yang aktif terbukti meningkatkan partisipasi siswa. Sebaliknya, metode yang kurang bervariasi cenderung menurunkan fokus dan motivasi belajar anak,” ungkap salah satu mahasiswa dalam diskusi reflektif pasca-observasi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berita.upi.edu