INDOZONE.ID - Mengingat status Indonesia sebagai wilayah yang rentan terhadap bencana, penguatan sistem dan pemahaman kesiapsiagaan yang menyeluruh bagi seluruh masyarakat menjadi hal yang mendesak.
Guna menyikapi tantangan ini, TOA Indonesia bersinergi dengan FMIPA Universitas Indonesia melalui inisiatif "When Knowledge Meets Readiness".
Program kolaboratif ini menargetkan edukasi bagi 5.000 siswa sekolah dasar yang berdomisili di zona rawan bencana.
Dalam pernyataannya di Jakarta pada Senin (4/5/2026), Clara Dinny Aryanti selaku Brand & Community Manager TOA Indonesia menekankan pentingnya peran anak-anak dalam memutus celah pemahaman mengenai mitigasi bencana.
Baca juga: Ancaman Siklos Tropis Nyata! Pakar UMY Tegaskan Mitigasi Harus Masuk Perencanaan Pembangunan
Ia meyakini bahwa dengan kemampuan adaptasi dan pemahaman yang cepat, anak-anak tidak hanya menjadi subjek edukasi, tetapi juga penghubung yang membawa pengetahuan tersebut ke dalam keluarga mereka.
"Anak-anak itu kita berharap bisa menjadi penggerak perubahan. Selain itu, anak-anak mudah beradaptasi, mudah mengerti, mudah bisa menjadi penghubung dengan keluarga," ujar Clara Dinny Aryanti saat konferensi pers di Jakarta, Senin (4/5/2026).
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 4.700 kejadian bencana alam sepanjang 2025.
Untuk itu, upaya mitigasi tidak cukup bertumpu pada teknologi semata, tetapi juga membutuhkan kemampuan masyarakat dalam memahami dan menjalankan langkah respons tepat, guna menekan risiko korban.
Seremoni kolaborasi ini juga ditandai dengan peluncuran dua video animasi edukasi siaga bencana di Aula Prof. Dr. Soemantri Brodjonegoro, FMIPA Universitas Indonesia, Depok.
Materi video dikembangkan melalui riset kolaboratif bersama para ahli, termasuk referensi dari Research Institute of Disaster Science (IRIDES) di Tohoku University, Jepang, serta observasi lapangan di berbagai daerah lokal.
Menurut Clara, proses pembuatan materi video mereka melibatkan riset panjang hingga ke Jepang untuk melihat langsung model masyarakat yang sudah memiliki kesiapan tinggi terhadap bencana.
"Jadi kita juga melakukan pembelajaran sampai ke Jepang, di mana Jepang kan tadi seperti yang sudah kita cerita, bahwa di sana tuh sudah lebih siap gitu ya, bagaimana menghadapi bencana," jelas Clara Dinny.
Namun, ia menekankan bahwa standar Jepang tidak diadopsi secara mentah-mentah, melainkan disinkronisasikan dengan literasi BPBD DKI Jakarta agar tetap kontekstual.
Baca juga: Kenalkan Mitigasi Bencana Sejak Dini, Mahasiswa KKN Undip Edukasi Siswa SDN Sriwulan
"Dan mereka juga sudah lebih teredukasi, tapi balik lagi, kita juga harus menyesuaikan nih sama apa yang ada di sini dengan literasi BPBD yang ada di DKI Jakarta," tegasnya.
Langkah ini diambil agar konten edukasi yang dihasilkan benar-benar sejalan dengan prosedur penanganan bencana yang berlaku di Indonesia.
Analis Kebencanaan BNPB, Trevi Jayanti Puspasari turut menanggapi hal serupa bahwa, "Kolaborasi seperti ini sangat dibutuhkan untuk mendukung upaya di lapangan. Akademisi menghadirkan basis ilmiah, sementara industri membawa kapabilitas teknologi dan implementasi,” ujarnya.
Melalui sinergi antara riset, edukasi, dan solusi praktis di lapangan, kedua pihak ingin mendorong terbentuknya budaya kesiapsiagaan bencana yang lebih kuat dan responsif di Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung