INDOZONE.ID - Tim mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) meraih juara 1 sekaligus penghargaan Best Presentation pada ajang Integrated Petroleum Competition (INCEPTION) 2026, melalui inovasi studi pengembangan lapangan panas bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kompetisi INCEPTION 2026 tersebut diselenggarakan oleh Society of Petroleum Engineers (SPE) Undip Student Chapter dan Society of Exploration Geophysicists (SEG) Undip Student Chapter.
Prestasi tersebut diraih tim Raja Firngawi, yang terdiri dari Abhipraya Sava Oranto, Bryan Asa Sumirat, Raihan Firdaus Amoreza dari Teknik Perminyakan, serta Andika Sukmana dari Teknik Geofisika ITB.
Dalam kompetisi cabang Geothermal Development Plan Competition (GDPC), mereka mengangkat karya berjudul “Pre-Feasibility Study Zeta Geothermal Field”.
Baca juga: Panduan Mahasiswa: Cara Mencari Jurnal Internasional yang Terpercaya
Melalui kompetisi ini, peserta ditantang menyusun rencana pengembangan lapangan panas bumi yang realistis dan berkelanjutan berdasarkan studi kasus langsung.
Penilaian dari juri mencakup aspek geosains, teknis, ekonomi proyek, hingga keberlanjutan yang mendukung target Net Zero Emission 2060.
Tim Raja Firngawi memilih lokasi studi di Desa Sokoria, Kabupaten Ende, Pulau Flores. Kawasan tersebut dinilai kaya potensi panas bumi, tapi juga menghadapi tantangan medan yang cukup kompleks. Sebab, kondisi wilayahnya sempit, terjal, dan dekat dengan permukiman warga.
Setiap anggota dalam Tim Raja Firngawi memiliki peran berbeda. Abhipraya bertugas sebagai project manager yang mengatur jalannya proyek dan koordinasi tim. Bryan berfokus pada perencanaan pengeboran sumur panas bumi serta Andika bertanggung jawab menganalisis data geologi, geokimia, dan geofisika untuk menentukan lokasi reservoir potensial.
Di sisi lain, Raihan berperan sebagai power plant engineer yang merancang sistem pembangkit listrik agar energi panas bumi dapat dikonversi menjadi listrik secara optimal.
Tim mengusulkan pengembangan lapangan panas bumi dalam dua fase dengan target kapasitas mencapai 50 megawatt menggunakan teknologi single flash.
Seluruh perhitungan dilakukan berdasarkan data teknis dan referensi ilmiah yang mereka pelajari selama proses kompetisi.
Namun, proses pengerjaan proyek tersebut tidak berjalan mudah. Menjelang akhir kompetisi, tim sempat melakukan perubahan besar pada pendekatan geolistrik yang menjadi dasar analisis mereka.
Perubahan itu membuat hampir seluruh perhitungan teknis harus disesuaikan kembali. Karena itu, mereka aktif berkonsultasi dengan dosen dan kakak tingkat untuk memperkuat konsep yang dikembangkan.
Selain menjadi juara utama, tim Raja Firngawi juga mendapat penghargaan Best Presentation berkat penyampaian materi yang dinilai kuat dan sistematis di hadapan dewan juri.
Pada babak final, mereka harus mempresentasikan seluruh proyek hanya dalam waktu 15 menit dengan batas maksimal 20 slide presentasi.
Menurut tim, salah satu kunci keberhasilan mereka adalah pembagian tugas yang jelas, efisiensi penyampaian materi, serta penggunaan referensi jurnal ilmiah yang kuat untuk mendukung setiap keputusan teknis yang dipilih.
Melalui kompetisi ini, tim juga menyoroti besarnya potensi energi panas bumi di Indonesia. Meski menjadi salah satu negara dengan cadangan geotermal terbesar di dunia, pengembangan energi panas bumi masih menghadapi tantangan besar, mulai dari investasi awal yang tinggi hingga tingkat risiko eksplorasi cukup besar.
Baca juga: UNNES Hidupkan Permainan Tradisional Kepada Generasi Muda Lewat Festival Dolanan Anak 2026
Bagi tim Raja Firngawi, kemenangan ini menjadi pengalaman berharga sekaligus motivasi untuk terus berkembang di bidang energi terbarukan dan teknologi panas bumi di masa depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Itb.ac.id