INDOZONE.ID - Pada awal abad ke-20, Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di Purworejo berdiri sebagai lembaga penting yang mencetak guru-guru pribumi di era kolonial Belanda.
Dalam jurnal berjudul “Ragam Pendidikan Guru Masa Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda” karya Yeni Kurniawati dan Ayi Budi Santosa, Awalnya, sekolah ini didirikan untuk memenuhi kebutuhan tenaga pengajar di sekolah dasar demi mendukung administrasi kolonial.
Namun, perannya berkembang menjadi lebih luas dalam meningkatkan pendidikan dan kesadaran masyarakat pribumi.
Baca Juga: Sambangi UGM, Pertamina Foundation Dorong Generasi Muda Jadi Pahlawan untuk Masyarakat
Saat itu, akses pendidikan untuk pribumi sangat terbatas dan hanya diberikan kepada kalangan tertentu, terutama priyayi.
SPG Purworejo hadir untuk mengisi kekosongan tersebut dengan memberikan pendidikan dasar, pelatihan mengajar, dan keterampilan praktis seperti pertanian dan kesehatan.
Menariknya, lulusan SPG ini tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga tokoh penting dalam membangkitkan kesadaran nasionalisme.
Baca Juga: Fisipol UGM Gelar Research Week 2024, Sajikan Puluhan Riset dan Kajian
Meski dibentuk dalam sistem kolonial, para guru mampu memanfaatkan ilmu mereka untuk mendidik rakyat dan menyebarkan semangat kebangsaan.
Banyak alumni SPG Purworejo yang terlibat dalam pergerakan nasional, menggunakan peran mereka sebagai guru untuk menginspirasi generasi muda agar berpikir kritis dan bangga sebagai bangsa Indonesia.
Dengan dedikasi mereka, pendidikan tak lagi sekadar alat kolonial, tetapi menjadi fondasi perjuangan untuk kemerdekaan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal Nasional