Kategori Berita
KANAL
REGIONAL
Senin, 29 SEPTEMBER 2025 • 12:40 WIB

Dari Ujung Timur ke Ganesha: Askal dan Khalisya Tempuh 3.617 Km untuk Masuk ITB

Dari Ujung Timur ke Ganesha: Askal dan Khalisya Tempuh 3.617 Km untuk Masuk ITBMaba ITB, Askal dan Khalisya (Instagram/@kamumahasiswa)

INDOZONE.ID - Kisah Askal Arparandi dan Khalisya Afifah Laraswati, yang berangkat dari ujung timur Indonesia, menyeberangi lautan dan pulau, 3.617 kilometer jauhnya, lalu duduk di Sasana Budaya Ganesha sebagai mahasiswa baru ITB.

Dua alumni SMA Negeri 2 Merauke, yang resmi tercatat sebagai mahasiswa sarjana ITB pada Sidang Terbuka Penerimaan Mahasiswa Baru (Maba) padaTahun Akademik 2025/2026.

Baca juga: Kisah Dr. Hema Sane: Botanist Pengajar di Kampus Abasaheb Garware College yang Hidup Tanpa Listrik

Perjalanan Askal dan Khalisya

Di antara 5.286 maba yang memasuki gerbang Ganesha, keduanya mencuri perhatian karena jarak tempuh yang luar biasa. Kisah Askal bergerak seperti maraton. Lintasan pertamanya lewat jalur SNBP tapi saat itu ia gagal.

Alih-alih menyerah, Askal merapikan strategi, menguatkan persiapan, dan mencoba Seleksi Mandiri. Yang akhirnya mengantarkannya lolos ke ITB, berdampingan dengan sahabat sekolahnya, Khalisya. 

Di sisi lain, Khalisya tumbuh dengan kompas yang sama disiplin dan menolak inferior. Ia menempatkan target kuliah di ITB sebagai proyek jangka panjang yang dikerjakan konsisten membagi waktu antara tugas harian, try out, hingga mengurus administrasi pendaftaran dari Merauke.

Ketika pengumuman lolos datang, yang pertama terbayang bukan hanya nama kampus impian, tetapi juga wajah guru, teman, dan keluarga yang selama ini jadi sistem pendukung.

Dukungan yang Ada jadi Bahan Bakar Utama

Daya dukung datang pula dari negara. Program Dukungan Daerah 3T membantu Askal membebaskan biaya kuliah dan asrama. Dengan itu, fokus bisa kembali ke hal yang lebih strategis yaitu adaptasi akademik, literasi teknologi, dan jejaring pertemanan di lingkungan baru.

Kini keduanya resmi menjadi bagian keluarga besar ITB. Di Bandung, mereka memulai babak yang sama sekali baru ritme perkuliahan cepat, standar tugas tinggi, dan atmosfer kompetitif yang menuntut kolaborasi.

Khalisya menggantungkan harap sederhana tapi tegas menjaga nama baik almamater. Sementara Askal mengajak teman-teman seangkatan untuk saling mendukung, karena perjalanan jauh tidak pernah diselesaikan sendirian.

Untuk adik kelas di Merauke atau siapa pun yang merasa tertinggal pesan mereka terang adalah jangan takut mencoba. Ketertinggalan adalah masalah ritme, bukan vonis bakat.

Baca juga: Kisah Dr. Nadhira Nuraini Afifa, Dari Depok ke Podium Wisuda Harvard

Percaya diri, konsisten berusaha, dan berani memutar haluan ketika strategi awal tak berhasil. Bila jalur utama macet, cari celah di samping yang penting tetap menuju tujuan.

Nah, perjuangan Askal dan Khalisya ini bisa jadi motivasi untuk kamu, supaya kamu gak ragu untuk mencapai impian kamu. Jadi langkah awal apa nih yang bakal kamu ambil untuk menata rencana masa depan kamu? 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Itb-ad.ac.id

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Dari Ujung Timur ke Ganesha: Askal dan Khalisya Tempuh 3.617 Km untuk Masuk ITB

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!