Tim mahasiswa UNAIR berfoto dengan peserta lain (unair.ac.id)
INDOZONE.ID - Mahasiswa lintas fakultas Universitas Airlangga (UNAIR) meraih prestasi di kancah internasional. Mereka tergabung dalam satu tim, lalu mendapatkan Gold Medal di ajang World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2025, yang digelar di SEGi University, Kota Damansara, Malaysia.
Tim tersebut beranggotakan lima orang, antara lain Alia Dewi Kartika, Nithasya Rahma, dan Dinar Rheina Rassendria dari Teknik Biomedis Fakultas Sains dan Teknologi.
Baca juga: Salwa Nadia Maharani, Mahasiswi ITS yang Borong 5 Medali Catur di Pomnas XIX 2025
Lalu, ada Arfandi Qurrata’ain dan Doohan Hadinata Tedja dari Teknik Robotika serta Kecerdasan Buatan Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin. Tim ini jadi satu-satunya perwakilan UNAIR pada kompetisi tersebut.
Pada kompetisi ini, mereka mengembangkan alat deteksi dini Carpal Tunnel Syndrome (CTS), berbasis sinyal elektromiografi (EMG) yang mereka namai PURE-it. Alat ini digabung dengan metode machine learning, supaya analisis lebih akurat.
Inovasi ini dapat membantu masyarakat untuk deteksi CTS lebih cepat, praktis, dan terjangkau. Dengan demikian, ini bisa jadi langkah preventif sebelum penyakit berkembang semakin parah.
Baca juga: Nggak Suka Jogging? Ketawa Bisa Jadi Olahraga Ringan buat Mahasiswa
Perjalanan mereka berawal dari obrolan santai lintas jurusan, hingga akhirnya menemukan titik antara biomedis dan kecerdasan buatan. Hingga akhirnya, mereka memutuskan untuk melakukan kolaborasi.
Selama proses persiapan, mulai dari menyusun ide, membuat prototipe, hingga menyusun laporan presentasi mereka nikmati dengan baik. Akan tetapi, tantangan hadir saat prototipe belum sempurna meski sisa satu minggu menuju perlombaan.
Namun, dengan komunikasi, koordinasi, dan semangat, mereka bisa menyelesaikan itu semua tepat waktu.
Baca juga: Mahasiswa UIN Alauddin Makassar Belajar Komunikasi Publik di Mako Brimob Pabaeng-baeng
Salah satu perwakilan tim, Alia Dewi Kartika menyebut ajang ini menjadikan pengalaman luar biasa baginya.
“Rasanya campur aduk, awalnya ingin coba sesuatu di luar zona nyaman, ternyata justru membuka jalan sampai tingkat internasional. Bisa bertemu peserta dari berbagai negara dan belajar langsung dari inovasi mereka adalah pengalaman yang tak ternilai,” ungkapnya.
Baca juga: Mahasiswa UNAIR Raih Prestasi di Kejuaraan Presentasi Bahasa Jepang se-Jawa Timur
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Unair.ac.id