Kategori Berita
KANAL
REGIONAL
Selasa, 07 OKTOBER 2025 • 15:00 WIB

Limbah Batik Jetis Bisa Jadi Solusi Bersih: UNAIR Tunjukkan Inovasi Nanoteknologi di Sidoarjo

Limbah Batik Jetis Bisa Jadi Solusi Bersih: UNAIR Tunjukkan Inovasi Nanoteknologi di SidoarjoTim peneliti UNAIR dan tim Batik Jetis (unair.ac.id)

INDOZONE.ID - Tim Rekayasa Nanoteknologi Universitas Airlangga (UNAIR) memperkenalkan inovasi teknologi berbasis karbon aktif dari cangkang kelapa sebagai metode pengolahan  yang bersih, efektif, dan praktis di sentra kerajinan batik Jetis, Sidoarjo.

Limbah Batik dan Problematika Lingkungan

Baca juga: Mahasiswa KIP-K ITB Raih Juara 3 KTI Nasional Lewat Inovasi Kedelai Lokal

Limbah cair dari proses pewarnaan batik gak bisa dianggap remeh karena warnanya pekat, mengandung senyawa kimia sintetis, dan jika dibuang mentah ke sungai atau tanah, bisa mencemari air dan merusak ekosistem lokal.

Inilah tantangan besar yang dihadapi para perajin di Jetis setiap hari. Tim UNAIR, lewat kegiatan pengabdian masyarakat, memperkenalkan metode adsorpsi menggunakan karbon aktif dari cangkang kelapa.

Karbon aktif tersebut punya luas permukaan tinggi sehingga efektif menyerap pigmen dan senyawa kimia dari limbah batik. Selain memberikan teori, para perajin juga dilatih membuat karbon aktifnya sendiri dari cangkang kelapa hingga menerapkannya ke sistem filtrasi limbah.

Limbah Batik Jetis Bisa Jadi Solusi Bersih: UNAIR Tunjukkan Inovasi Nanoteknologi di SidoarjoPraktik Tim Rekayasa Nanoteknologi UNAIR. (unair.ac.id)

Menurut Dr. Raden Joko Kuncoroningrat, ketua tim pengabdian masyarakat, teknologi ini bisa menjadi model bagi sentra kerajinan lain di Jawa Timur karena biayanya rendah, bahan bakunya melimpah, dan metode aplikasinya cukup sederhana.

Zainal Afandi, Ketua Paguyuban Batik Jetis, menyambut hangat program ini. Ia menekankan kalau pengolahan limbah air baku perlu menjadi prioritas agar kampung kerajinan gak lagi membiarkan limbah merusak lingkungan dan kesehatan masyarakat sekitar.

Keunggulan dan Manfaat Inovasi UNAIR

  • Ramah lingkungan dan lokal, cangkang kelapa sebagai bahan baku karbon aktif mudah didapat di area agraris Jawa Timur semakin meminimalkan ketergantungan bahan kimia impor.
  • Efisiensi tinggi, karena karbon aktif punya area penyerapan besar, zat warna dan partikel polutan bisa terperangkap lebih baik efektivitas tinggi dalam proses adsorpsi.
  • Skill bagi perajin, pelatihan gak hanya menyentuh aspek teknologi, tapi juga memberi ketrampilan baru kepada perajin lokal agar mereka bisa mengelola sendiri proses pengolahan.
  • Pencapaian SDGs, inovasi ini bisa menjadi kontribusi ke SDG 6 (air bersih dan sanitasi), SDG 12 (konsumsi dan produksi berkelanjutan), dan SDG 13 (penanganan perubahan iklim).
  • Inspirasi dan replikasi, jika berhasil di Jetis, model ini punya potensi replikasi ke pusat kerajinan lain di Indonesia.

Baca juga: Mata Elang: Inovasi PENS yang Siap Jadi “Penjaga Siber” Kelas Dunia

Menurut Dr. Tahta Amrillah, ketua tim peneliti, metode ini dipilih karena kemudahan penerapan di lapangan.  Gak butuh peralatan super rumit, cukup pembuatan karbon aktif sederhana dan sistem filtrasi yang bisa diadopsi oleh perajin.

Nah, gimana menurut kamu sama inovasi dari limbah batik ini?

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Unair.ac.id

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Limbah Batik Jetis Bisa Jadi Solusi Bersih: UNAIR Tunjukkan Inovasi Nanoteknologi di Sidoarjo

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!