INDOZONE.ID - Tim mahasiswa penerima beasiswa KIP-K dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Soynice tim, berhasil mendapatkan Juara 3 dalam lomba Karya Tulis Ilmiah (KTI) Nasional Writing Contest Fomuny UNY 2025. Penghargaan diberikan pada acara awarding di Universitas Negeri Yogyakarta, Minggu 7 September 2025.
Tim Soynice beranggotakan tiga mahasiswa ITB yaitu Nudi Nurjidan, Nursanah, dan Anisa Dyah Pangesti yang ikut serta dalam lomba bertema “Peran Mahasiswa KIP-K dalam Memanfaatkan Sumber Daya Alam untuk Mewujudkan Ketahanan Pangan”.
Baca juga: Selamat! Tim FKG UNAIR Juara II Nasional Berkat Kajian “Immunochemotherapy” untuk Kanker Mulut
Judul karya tulis mereka adalah “Reduksi Ketergantungan Impor Kedelai Melalui Inovasi Pertanian Berkelanjutan dan Optimalisasi Produktivitas Varietas Kedelai Lokal”.
Menurut Nursanah, latar belakang pemilihan tema ini berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat yang mengonsumsi tahu dan tempe produk kedelai yang sangat bergantung pada impor.
“Daripada terus bergantung impor, kita perlu optimalkan potensi kedelai lokal untuk menuju swasembada pangan.” ujar Nursanah, seperti yang dilansir dari laman resmi ITB.
Ketua tim, Nudi Nurjidan, menambahkan bahwa kekuatan utama dari ide ini ada pada relevansi sosialnya
“Tahu dan tempe adalah sumber protein murah. Kemandirian pangan lewat kedelai lokal bisa menjaga stabilitas harga dan ketersediaan.” Ungkap Nudi
Untuk implementasinya, mereka mengusulkan model Integrated Farming System (IFS) dan teknik intercropping.
Yaitu menanam varietas kedelai unggul (Grobogan, Anjasmoro, Agromulyo) bersama tanaman bernilai ekonomi tinggi seperti jagung. Konsep ini diharapkan bisa memaksimalkan produktivitas dan efisiensi lahan.
Dalam menyusun karya tulisnya, Soynice Team menggunakan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan meninjau perjalanan program swasembada kedelai sejak tahun 2000.
Tapi, gak semua fase berjalan mulus. Nudi mengungkap kalau ia sempat bertugas KKN di daerah dengan sinyal internet terbatas, yang membuat koordinasi tim menjadi lebih menantang.
“Untung progres sudah mencapai 80%, sehingga anggota tim lain bisa melanjutkan dari lokasi mereka masing-masing,” Ungkap Nudi.
Menariknya, ini adalah lomba KTI pertama yang diikuti oleh tim Soynice. Untuk Nudi, sebagai penerima KIP-K, pengalaman ini menjadi jadi pelajaran kalau keterbatasan finansial bukan hambatan untuk berkontribusi pada isu nasional.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Itb-ad.ac.id