Potret kegiatan Biosphoric Competition (Istimewa)
INDOZONE.ID - Isu keberlanjutan nggak lagi sebatas jargon, tapi di lingkungan kampus isu ini justru jadi fokus mahasiswa bioteknologi untuk mencari solusi nyata.
Program Studi Bioteknologi Bina Nusantara (BINUS) University hadir dengan inovasi ramah lingkungan bernama eco-enzyme dan melibatkan anak muda lewat Biospheric Competition.
Kalau biasanya limbah organik seperti kulit buah atau potongan sayuran dibuang begitu saja, mahasiswa bioteknologi justru menemukan ladang manfaat.
Baca juga: Juara 1 PTGC 2025, Inovasi Energi dan Air Bersih Karya Mahasiswa ITB untuk Petani di Daerah 3T
Mereka memproses sampah menjadi cairan fermentasi dengan gula dan air yang diberi nama eco-enzyme. Cairan ini bermanfaat sebagai pembersih alami karena sifatnya antibakteri dan antijamur.
Produk eco enzyme mahasiswa Bioteknologi (Istimewa)
Penggunaannya pun disalurkan ke produk kebersihan, mulai dari personal care (sabun cuci tangan alami) sampai homecare disinfectant (sabun cuci piring, deterjen, hingga multipurpose spray).
Berdasarkan uji ilmiah, kemampuan membunuh bakteri, rasa bersih, tekstur, hingga aroma eco-enzyme punya potensi besar untuk memenuhi konsep circular economy.
Jadi masyarakat bisa memanfaatkan limbah organik, mengurangi pencemaran lingkungan, sekaligus menghasilkan produk yang bernilai.
Bukan hanya BINUS, mahasiswa bioteknologi juga mengajak generasi muda lewat kompetisi Biospheric. Mengusung tema Leveraging Bioresources for a Sustainable Future, kompetisi ini berhasil menarik peminat siswa SMA hingga 82 tim.
Suasana Biospheric Competition dan uji coba lab produk Bioteknologi. (Istimewa)
Baca juga: PGSD BINUS University Luncurkan Beasiswa 100 Persen, Berkomitmen Cetak Guru Standar Internasional
Biarpun masih SMA, ide mereka terbilang menjanjikan, salah satunya:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Press Release