Para peserta CODH-2025 (itb.ac.id)
INDOZONE.ID - The 4th International Conference on Digital Humanities (CODH-2025) kembali diadakan. Kali ini, Institut Teknologi Bandung (ITB) hadir sebagai tuan rumah.
Kegiatan ini mengangkat tema “Technoculture and Beyond: Rethinking the Human ia a Digital World”. Konferensi ini juga jadi tempat berkumpulnya para akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara.
Mereka membahas arah baru dari adanya perkembangan humaniora digital di perkembangan era teknologi yang semakin masif.
Baca juga: Mahasiswi Asal Tiongkok Jadi “Student of The Month” di UNESA, Buktikan Passion Bisa Bawa Jauh
Pada tahun ini, 32 pembicara hadir dari enam negara yaitu Indonesia, Mesir, Malaysia, Turki, Jerman, Afrika Selatan, dan Italia.
Di 2025, ini jadi keempat kalinya konferensi ini diselenggarakan, serta memperkuat ITB jadi pusat kolaborasi di bidang humaniora digital.
Baca juga: Mahasiswi Asal Tiongkok Jadi “Student of The Month” di UNESA, Buktikan Passion Bisa Bawa Jauh
Ketua Panitia CODH-2025, Dr. Harry Nuriman negesin komitmen ITB buat mengembangkan humaniora digital. Salah satu langkah konkretnya yaitu menghadirkan Program Magister Teknokultur ITB yang bakal dibuka secara resmi di tahun akademik 2025/2026.
“Program ini dirancang sebagai wadah integratif antara teknologi, seni, dan humaniora dalam konteks sosial budaya. Kami sangat mendorong lulusan S1 dan D4 dari berbagai jurusan, baik dari dalam maupun luar negeri, untuk melanjutkan studi di bidang ini,” ujarnya.
Baca juga: Mahasiswa FK UNAIR Tembus Forum Neurologi Dunia, Bukti Anak Muda Bisa Bersaing di Level Global!
Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Dr. Herman Suryatman menyebut bahwa sekarang itu bukan era yang besar makan yang kecil, tapi yang cepat bakal makan yang lambat.
“Sekarang bukan zamannya yang besar memakan yang kecil, tetapi yang cepat memakan yang lambat. Dengan teknokultur dan pemanfaatan digitalisasi secara maksimal, Indonesia Emas 2045 bisa tercapai sepuluh tahun lebih cepat. Jawa Barat siap menjadi entry point melalui Jawa Barat Emas 2035,” tutur Herman.
Baca juga: Mahasiswa Universitas Tohoku Bisa Sarapan Bergizi Hanya dengan 100 Yen!
Dr. Denzil Chetty dari University of South Africa melihat gimana pentingnya keadilan digital dan inklusivitas, khususnya buat pengembangan kecerdasan buatan. Ia menyebut bahwa harus ada dekolonialisasi AI supaya lebih fokus melayani manusia dengan adil dan setara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Itb.ac.id