Workshop Menjalin Penjalin 2026. (uns.ac.id)
INDOZONE.ID - Universitas Sebelas Maret Surakarta kembali membuktikan komitmennya dalam mengembangkan dan melestarikan kerajinan lokal melalui program Menjalin Penjalin 2026. Kegiatan ini merupakan sebuah workshop pengembangan rotan yang berlangsung di Desa Trangsan, Sukoharjo.
Program tersebut dipimpin oleh Pandu Purwandaru dan menjadi bagian dari kolaborasi internasional antara UNS dengan Chiba University.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Program Studi Desain Interior FSRD UNS bersama Pusat Studi Jepang UNS, dengan fokus utama memperkuat peran perajin sebagai pelaku utama dalam proses praktik desain.
Melalui Menjalin Penjalin 2026, perajin tidak lagi hanya menjadi eksekutor produksi, tetapi dilibatkan langsung dalam pengambilan keputusan desain berdasarkan pengalaman keseharian mereka.
Baca juga: Mengapa QS World University Ranking Penting bagi Kampus, Dosen, dan Mahasiswa?
Di tengah derasnya tren global dan referensi berbasis instan, program ini hadir sebagai ruang bagi perajin untuk bereksplorasi sekaligus merefleksikan identitas khas lokal mereka.
Mereka diberi kesempatan untuk merancang karya secara mandiri, menentukan arah desain, hingga menampilkan ciri khas yang dimiliki.
Pandu Purwandaru menjelaskan bahwa program ini juga sejalan dengan prinsip Sustainable Development Goals (SDGs).
Dari sisi pendidikan (SDG 4), kegiatan ini mengusung pembelajaran berbasis pengalaman dan kolaborasi lintas budaya, di mana akademisi berperan sebagai fasilitator.
Baca juga: Sosok Abdurrahman Fawwaz, Mahasiswa UNDIP yang Sukses Gabungkan Sains dan Al-Qur’an
Sementara itu, dari aspek produksi (SDG 12), program ini mendorong pemanfaatan rotan secara bijak serta pengembangan desain yang berkelanjutan.
Kolaborasi antara UNS, Chiba University, dan komunitas perajin juga mencerminkan semangat kemitraan global (SDG 17) dalam mengembangkan kerajinan lokal.
Kegiatan yang dilaksanakan pada 6-15 Februari 2026 ini dimulai dengan kunjungan ke Spedagi sebagai referensi pengembangan komunitas berbasis potensi lokal. Setelah itu, workshop utama digelar di Desa Trangsan, lalu ditutup dengan pameran hasil karya di LAV Gallery.
Dalam workshop ini, lima perajin lokal Trangsan terlibat dalam lima kelompok kerja, masing-masing dari mereka berkolaborasi bersama dosen dan mahasiswa UNS serta mahasiswa dari Chiba University.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Uns.ac.id