Rabu, 06 AGUSTUS 2025 • 10:48 WIB

Waspada Ilusi Toxic Positivity di Lingkungan Kampus, Ketika Motivasi Menjadi Racun Mahasiswa

Author

Ilustrasi stres dan lelah dari belajar (freepik)

INDOZONE.ID - Kamu rajin ikut kelas, catat materi, dan evaluasi tiap tugas. Tapi tetap saja terasa berat dan melelahkan. Bisa jadi, kamu sebenarnya termotivasi, tapi oleh toxic positivity.

Kalau sudah begini bukan hanya energi dan tubuhmu yang lelah tapi juga pikiranmu.

Apa itu Toxic Positivity?

Toxic positivity adalah sikap yang memaksa diri untuk selalu positif, bahkan saat lelah dan butuh istirahat.

Di lingkungan kampus, ini sering muncul karena tekanan akademis, perbandingan sosial, dan harapan orang tua.

Bentuknya bisa berupa motivasi beracun yang justru bikin stres dan burnout. Kalau sudah begini, bukan hanya energi dan tubuhmu yang lelah, tapi juga pikiranmu.

8 Kalimat Motivasi Beracun yang Sering Tidak Kamu Sadari

Baca juga: Anti Demam Panggung! Tips Jitu Biar Pede Ngomong di Depan Umum

Berikut adalah contoh toxic motivation yang umum di kalangan mahasiswa:

1."Kamu gak bisa dapet apa-apa kalau bukan jadi siapa-siapa."

Kalimat ini menekankan bahwa nilai dirimu hanya ditentukan oleh pencapaian besar, bukan oleh proses yang kamu jalani.

2. "Bayangin mereka lagi ketawain kegagalan kamu."

Ini memotivasimu dengan rasa takut akan penilaian orang lain, bukan karena keinginanmu sendiri.

3. "Faktanya memang kamu gak melakukan apa-apa."

Ucapan ini meremehkan setiap usaha kecilmu dan membuatmu merasa malas, padahal mungkin kamu sedang butuh istirahat.

Baca juga: Stop Panik dan Perhatikan Ini! Cara Chat Dosen yang Benar biar Gak Jadi Ghosting

4. "Setiap detik scroll handphone, ada ribuan orang lainnya yang bakal rebut mimpimu!"

Motivasi ini menciptakan ilusi bahwa semua orang adalah saingan dan memicu rasa takut ketinggalan (FOMO).

5. "Disaat kamu sibuk rebahan, selalu ada orang yang udah melangkah jauh."

Kalimat ini membuatmu merasa bersalah saat beristirahat, padahal istirahat itu penting.

6. "Prove them wrong! Kamu dianggap pecundang sama mereka!"

Kamu didorong untuk bertindak demi membuktikan diri kepada orang lain, bukan untuk kepuasan pribadi.

7. "Kamu udah ketinggalan banyak karena gak mulai-mulai."

Kalimat ini memicu rasa panik dan terburu-buru, padahal setiap orang punya waktu dan kecepatan yang berbeda.

Baca juga: 3 Hal Tabu Bagi Mahasiswa! Hindari Ini Kalau Kamu Mau Kuliah Tanpa Drama

8. "Kalau kamu gagal, yang kecewa bukan kamu sendiri tapi orang tua kamu juga."

Tekanan emosional berat inilah yang membuatmu takut mengecewakan orang lain, bukan takut gagal untuk dirimu sendiri.

Kamu mungkin memang merasa terpacu untuk jadi lebih baik, tapi bukan karena sesuatu yang baik tapi karena rasa takut.

Tanpa sadar kamu akan merasa tidak cukup dan sangat mungkin membuatmu kehilangan arah.

Solusi Sehat untuk Mahasiswa

Untuk mengatasi toxic positivity, kamu bisa coba terapkan 3 hal ini:

1.Validasi Perasaanmu

Biarkan dirimu merasa lelah atau cemas tanpa merasa bersalah. Kamu boleh kok tidak merasa baik-baik saja.

Baca juga: Realita Mahasiswa Semester Akhir, Momen Terberat dalam Kuliah Tapi Tak Terlupakan

2. Fokus pada Proses, Bukan Hasil. 

Alihkan fokusmu dari mengalahkan orang lain. Nikmati proses belajarmu sendiri dan hargai setiap kemajuan kecil yang kamu buat.

Tetaplah bangga meskipun hasil tidak sebesar ekspektasi, tapi banggalah pada progres yang meningkat perlahan.

3. Latihlah Self-Compassion. 

Perlakukan dirimu dengan kebaikan dan pahami bahwa kegagalan adalah bagian dari proses. Kamu layak mendapatkan istirahat dan dukungan dari dirimu sendiri.

Motivasi yang baik bukan yang membuatmu takut gagal tapi yang bisa membuatmu ingin bangkit meski kamu jatuh dan gagal.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Instagram/@anindithaarsa

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU