INDOZONE.ID – Kalau biasanya kampus identik sama teori, kali ini mahasiswa ITB ngebuktiin hal sebaliknya. Mereka turun langsung ke lapangan dan bikin sesuatu yang berdampak nyata, instalasi biogas dari kotoran sapi di Desa Haurngombong, Sumedang.
Proyek ini namanya Ground to Gas (G2G), dan jadi bukti kalau ide kecil bisa ngasih efek besar buat masa depan energi terbarukan di Indonesia.
Baca juga: Keren! 3 Inovasi Medis Mahasiswa Telkom Surabaya Ini Langsung Diterapkan di RS Indonesia
Instalasi biogas yang dibangun tim G2G punya kapasitas sekitar 10 meter kubik. Dengan modal kotoran sapi sekitar 100 kilogram per hari, alat ini bisa menghasilkan gas metana yang cukup buat masak tiga rumah tangga.
Bonusnya, ada produk sampingan berupa bio-slurry yang bisa dipakai warga sebagai pupuk organik. Jadi manfaatnya dobel, dapet energi bersih plus pupuk ramah lingkungan.
Ilmu Kampus Turun ke Desa
Mereka pengen buktiin kalau ilmu yang dipelajari di kelas bisa langsung nyentuh kebutuhan masyarakat. Energi terbarukan gak harus selalu ribet atau mahal. Dengan teknologi sederhana, desa bisa mandiri energi dan gak bergantung penuh pada LPG.
G2G bukanlah proyek individu, Kolaborasi jadi kuncinya. Mahasiswa ITB gandeng warga desa, tokoh masyarakat, organisasi Society of Renewable Energy ITB, sampai mitra pendukung seperti Enter Nusantara.
Semua ikut terlibat, mulai dari pembangunan sampai peresmian. Puncaknya, ada momen serah terima simbolis instalasi biogas ke warga, lengkap dengan komitmen bareng buat jaga keberlangsungannya.
Dari Kotoran Jadi Solusi
Sesuatu yang biasanya dianggap kotor dan gak berguna yaitu kotoran sapi bisa disulap jadi sumber energi murah dan ramah lingkungan.
Lewat G2G, mahasiswa nunjukin kalau solusi itu bisa lahir dari desa, untuk desa. Bahkan gak menutup kemungkinan bisa ditiru di daerah lain.
Meski kapasitasnya sekarang baru cukup buat tiga rumah, kalau diperbesar bisa aja jadi penopang energi satu kampung penuh.
Energi Bersih, Bukan Sekadar Wacana
Tentu aja ada tantangan. Instalasi ini butuh perawatan rutin biar proses fermentasi tetap jalan maksimal. Tapi itu gak jadi halangan. Justru, G2G jadi titik awal kalau energi bersih bukan sekadar wacana di buku kuliah atau seminar.
Baca juga: Raih Prestasi Dunia! Mahasiswa BINUS Tembus Peringkat 18 ICPC World Finals 2025 di Baku
Di tangan mahasiswa dan masyarakat, energi terbarukan bisa hadir nyata, sederhana, dan langsung terasa manfaatnya.
Jadi, buat kamu yang lagi mikir topik skripsi atau nyari ide proyek sosial, siapa tahu ini bisa jadi inspirasi. Karena kalau kotoran sapi aja bisa berubah jadi hal yang brguna, masa ide kamu gak bisa?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Itb.ac.id