INDOZONE.ID - Irmandy Wicaksono, peneliti muda asal Indonesia yang berhasil menembus daftar bergengsi Top 35 Global Innovators Under 35 versi MIT Technology Review untuk kategori Material Science.
Perjalanan Irmandy ke Laboratorium MIT
Perjalanan Irmandy dimulai dari kecintaannya terhadap sains dan teknologi sejak kecil. Ia menempuh pendidikan S1 Electronic Engineering di University of Southampton (Inggris), kemudian melanjutkan S2 Electrical Engineering di ETH Zurich (Swiss).
Hingga akhirnya meraih gelar doktor di Massachusetts Institute of Technology (MIT) kampus top dunia yang juga dikenal sebagai tempat lahirnya inovator besar dunia seperti Richard Feynman dan Buzz Aldrin.
Setelah menyelesaikan studi, Irmandy bergabung dengan MIT Media Lab sebagai Graduate Researcher dan kini menjadi Research Affiliate di lab yang sama.
Tahun 2025, ia resmi bergabung sebagai Assistant Professor di National University of Singapore (NUS) dan Director di Soft Technologies Lab. Tapi di balik sederet gelar dan jabatan, semangat utamanya tetap sama yakni menciptakan teknologi yang bisa membantu manusia.
Inovasi dengan Sentuhan Kemanusiaan
Karya-karya Irmandy dikenal karena unik dan fungsional. Ia mengembangkan kaus kaki dan matras yoga pintar yang bisa mendeteksi posisi tubuh dan gerakan dengan akurasi hingga 99%.
Ada juga kain pintar yang mampu membaca detak jantung dan pola pernapasan pengguna secara real time. Gak berhenti di situ, ia juga meneliti pakaian antariksa yang dirancang untuk membantu astronot menjaga kesehatan kardiovaskular selama misi luar angkasa jangka panjang.
Inovasi-inovasi ini menunjukkan bagaimana sains bisa bersinergi dengan seni, desain, dan empati terhadap manusia.
Bagi Irmandy, teknologi bukan sekadar alat, tapi juga medium untuk memahami tubuh dan kehidupan manusia lebih dalam. Ia ingin menciptakan produk yang gak hanya pintar, tapi juga peduli.
Melewati Seleksi Ketat di Ajang Dunia
Untuk bisa masuk daftar MIT Technology Review “Innovators Under 35”, Irmandy harus melewati proses panjang dan sangat kompetitif.
Ia bersaing dengan ratusan ilmuwan muda dari seluruh dunia, menyiapkan CV, proposal inovasi, serta mendapatkan tiga surat rekomendasi dari pakar internasional. Karyanya kemudian dinilai oleh 38 juri global dari universitas ternama seperti Harvard, Stanford, hingga NASA.
Setelah proses penilaian berlapis, namanya akhirnya resmi diumumkan sebagai salah satu dari 35 inovator paling berpengaruh di dunia pada tahun 2025.
Menjadi Inspirasi
Selain dikenal sebagai ilmuwan, Irmandy juga aktif membimbing mahasiswa dan berkolaborasi dengan peneliti lintas disiplin untuk menciptakan solusi bagi kesehatan dan keberlanjutan. Ia percaya, sains sejati adalah sains yang bisa menyentuh kehidupan orang banyak.
Baca juga: Kenalin Gerry Utama, Alumni UGM yang Raih Rekor MURI sebagai Peneliti Termuda di Antartika
Kisah Irmandy jadi bukti kalau mimpi besar selalu dimulai dari langkah kecil dari rasa penasaran, dari keberanian untuk mencoba hal baru, dan dari tekad untuk memberi manfaat bagi orang lain.
Nah kalau Irmandy aja bisa mencapai mimpinya, kamu juga pasti bisa asalkan punya keberanian dan tekad yang kuat!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/@kobieducation