INDOZONE.ID - Pakar neurosains Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Sabiqotul Husna, mengungkapkan bahwa mahasiswa jadi kelompok yang rentan kena tekanan mental tinggi.
Biasanya, ini terjadi karena mahasiswa menghadapi tuntutan akademik, sosial, dan keluarga, tapi gak diimbangi dengan kesehatan mental dan fisik.
"Kalau kita lihat, salah satu kelompok yang pressurenya paling tinggi itu mahasiswa. Pressure dari mungkin akademik, lingkungan pertemanan, lingkungan keluarga," ujar Sabiqotul Husna dalam diskusi bertajuk "Speak Up for Mental Health: Mengenali Tanda, Menghapus Stigma,” ujarnya, dilansir ANTARA, Sabtu (11/10/2025).
Baca juga: Mahasiswa USU Sulap Limbah Plastik Jadi Gigi Palsu! Inovasi Keren Ini Raih Penghargaan Nasional
Sabiqotul mengatakan kesehatan mental dan fisik saling berpengaruh satu sama lain. Jadi, gak bisa dipisahkan untuk kesejahteraan individu.
"Dua kesehatan itu tidak bisa terpisahkan. Artinya, suatu ketika orang bisa terdampak kesehatan fisiknya jika dalam durasi waktu yang panjang dia telah mengalami kondisi mental yang tidak baik," jelasnya.
Selain itu, Sabiqotul mengungkapkan masih banyak pemahaman yang keliru tentang produktivitas di kalangan mahasiswa, sehingga perlu diluruskan. Ia menegaskan, produktivitas bukan berarti kerja terus atau abai terhadap waktu istirahat.
Baca juga: Gak Banyak yang Tahu! Ada Beasiswa Prestisius di SMU Singapura yang Didanai Keluarga Asal Indonesia
"Apakah kerja seperti kuda setiap hari itu produktif? Kerja 24 jam sehari, belajar dari pagi sampai tengah malam tanpa istirahat? Produktivitas sebenarnya adalah keseimbangan antara apa yang kita hasilkan dan kita dapatkan," tuturnya.
Kondisi Mental dari Perspektif Neurosains
Sabiqotul menyebutkan dari perspektif neurosains, kondisi mental yang gak baik dapat memicu gangguan pada kesehatan fisik, bahkan autoimun.
Hal ini karena tubuh akan terus produksi hormon stres ketika seseorang sedang berada dalam tekanan di waktu lama.
"Kelenjar dalam tubuh akan teraktivasi kalau kita stres atau cemas. Ketika tidak mendapatkan kesempatan untuk mengelola apa yang kita rasakan dalam waktu cukup lama, maka akan ada inflamasi karena hormon-hormon stres di dalam tubuh terus diproduksi," ucap dia.
Baca juga: Mahasiswa Ketiduran Ngerjain Skripsi, Malah Kena “Serangan” Chat Putus dari Pacar
4 Tanda Gangguan Mental
Ada empat tanda yang bisa dilihat ketika seseorang mulai mengalami gangguan mental, seperti dominasi emosi negatif, turunnya kemampuan kognitif, kurang minat untuk merawat diri, bahkan cenderung menarik diri dari kehidupan sosial.
"Isolasi diri itu salah satu 'silent killer' atau pembunuh diam-diam bagi kesehatan mental. Karena ketika kita sendirian, apalagi dalam posisi mental yang tidak baik-baik saja, hormon stres juga tetap keluar selama tidak ada kehadiran orang lain," terangnya.
Baginya, kehadiran orang lain bisa memengaruhi untuk membantu kondisi mental seseorang agar lebih baik.
Fenomena Self Diagnosis di Kalangan Muda
Ia juga menanggapi banyaknya self diagnosis di kalangan muda, Sabiqotul menegaskan perbedaan antara “self-care” dan “self-diagnosis”.
"Perasaan sedih, semangatnya turun, itu manusiawi. Tapi untuk melabeli diri dengan istilah tertentu atau diagnosis, itu seharusnya ranah ahli," ujarnya.
Selain itu, Sabiqotul juga krisis adanya fenomena romantisme penyakit mental di media sosial, seolah-olah jadi hal istimewa. Ia juga mengimbau untuk gak menunggu semakin buruk, lebih baik segera bantuan profesional.
"Jangan tunggu sampai parah. Ketika sudah ada tanda-tanda seperti emosi tidak stabil, kognisi menurun, atau menarik diri dari sosial, tidak ada salahnya menemui psikolog atau psikiater," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA