INDOZONE.ID - Banyak mahasiswa Indonesia yang kaget ketika pertama kali kuliah di luar negeri, termasuk di Australia.
Apalagi, semakin terasa perbedaannya saat S1 di dalam negeri lalu lanjut pendidikan S2 atau S3 di negeri kanguru, gap-nya terasa nggak cuma di bahasa, tapi juga budaya akademiknya.
Ini dia 5 hal menarik tentang sistem kuliah di negeri tetangga, Australia!
Baca juga: Tak Cuma Info Kampus dan Beasiswa, 4 Hal Ini Juga Wajib Kamu Pikirkan Sebelum Lanjut S2
5 Hal yang Bikin Budaya Kuliah di Australia Gak Sama Kayak di Indonesia
1. Gak Ada “Cari Muka” ke Dosen
Kalau di Indonesia, aktif di kelas udah jadi bagian dari cara bersosialisasi dan menunjukkan antusiasme dalam belajar. Tapi hal ini ternyata nggak berlaku di Australia bahkan nggak berpengaruh ke penilaian.
Hubungan antara dosen dan mahasiswa hanya sebatas pengajar dan peserta belajar. Setelah kelas selesai, semua bubar tanpa basa-basi atau bertahan di kelas sekadar buat “mendekati” dosen.
Baca juga: 5 Tips Buat Study Plan untuk Beasiswa ke Luar Negeri, Dijamin Auto Lolos!
2. Kelas Terbagi Dua: Lecture dan Tutorial
Kalau di Indonesia mahasiswa biasanya diajarkan hal-hal dasar di kelas pengantar, di Australia kamu akan langsung ketemu dua jenis kelas: lecture dan tutorial.
Lecture diikuti ratusan mahasiswa untuk penyampaian materi utama, sedangkan tutorial diisi belasan mahasiswa dan fokus pada diskusi serta tugas proyek atau kelompok.
3. Kehadiran Bukan Penilaian
Di Australia nggak ada sistem absensi. Jadi kalau kamu telat atau nggak hadir, bukan jadi masalah besar. Kampus hanya menuntut satu hal: tanggung jawab atas tugas dan disiplin terhadap hasil belajar.
Baca juga: Kenapa Sukses Rate Mahasiswa Harvard Lebih Tinggi? Ini 5 Jawabannya
Rata-rata kuliah di Australia cuma tiga hari dalam seminggu, tapi tugasnya padat banget. Jadi mahasiswa harus pintar-pintar mendisiplinkan diri dan mengatur waktu.
4. Sistem Penilaian yang Ketat
Berbeda jauh dengan Indonesia, sistem penilaian di kampus Australia murni berdasarkan kemampuan belajar. Di Indonesia, penilaian sering dipengaruhi oleh kerajinan dan keaktifan di kelas, bahkan bisa menentukan IPK akhir.
Sedangkan di sana, penilaian lebih ditekankan pada grammar dan struktur tulisan, kerja sama dalam tugas kelompok dan proyek, serta hasil quiz atau exam.
5. Ada “Blind Marking” dan Aturan Anti Plagiarisme
Takut ada perbedaan penilaian dari dosen yang mengajar? Tenang aja. Di Australia, kampus menerapkan sistem blind marking, yaitu penilaian objektif oleh dosen lain yang tidak mengajar di kelas tersebut.
Aturan terkait plagiarisme juga sangat ketat. Kalau kamu ketahuan menyalin tugas teman dan terdeteksi sistem, siap-siap dipanggil ke sidang akademik.
Budaya akademik tiap negara memang berbeda. Tapi di Australia, pendidikan sangat mengutamakan profesionalitas, integritas, dan tanggung jawab pribadi mahasiswa.
Awalnya mungkin bikin kaget, tapi justru bisa jadi pelajaran berharga!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/@rchsatria