Dari Bengkel Tambal Ban ke Panggung Wisuda: Kisah Alfian, Wisudawan Tunanetra Pertama Unair yang Raih Gelar S2
INDOZONE.ID - Kalau biasanya kisah perjuangan kuliah berakhir dengan foto toga dan bunga, maka perjalanan salah satu mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) punya makna yang lebih dari itu.
Kisah Alfian Andhika Yudhistira mahasiswa UNAIR, yang menembus batasan diri dengan menjadi wisudawan tunanetra pertama yang berhasil menyelesaikan studi magister di kampus UNAIR. Alfian menempuh program Magister Kebijakan Publik dengan tekad yang luar biasa.
Baca juga: Kisah Abdul Gawi, Mahasiswa Tunanetra yang Buktikan Tak Ada Batas untuk Lulus Tepat Waktu
Berangkat dari keterbatasan, ia tetap mampu menembus semua tantangan akademik tanpa pendamping khusus. Ia belajar, berdiskusi, hingga menyelesaikan penelitian bersama rekan-rekan sekelas yang selalu siap membantu.
Lingkungan kampus yang inklusif menjadi ruang bagi Alfian untuk tumbuh dan membuktikan kalau pendidikan bisa diakses oleh siapa pun, tanpa diskriminasi.
Perjalanan dari Kesederhanaan ke Gelar Magister
Di balik toga dan senyum bahagianya, ada cerita sederhana yang menyentuh. Alfian berasal dari keluarga pekerja keras, ayahnya seorang tukang tambal ban dan ibunya ibu rumah tangga.
Meski kondisi ekonomi terbatas, keluarganya selalu menjadi sumber semangat. Dari bengkel kecil di pinggir jalan, ia menanamkan tekad untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin.
Perjalanan akademiknya gak instan. Setelah menamatkan S1 Antropologi di Unair, Alfian melanjutkan ke jenjang S2 dengan semangat ingin membawa perubahan nyata.
Ia sadar, perjuangan bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk teman-teman disabilitas lainnya agar bisa mendapat kesempatan yang sama.
Menjadi Inspirasi
Kini, Alfian menjadi inspirasi bagi banyak mahasiswa, terutama bagi mereka yang tengah berjuang melawan rasa minder dan keterbatasan diri. Alfian membuktikan kalau kebahagiaan bukan datang dari kesempurnaan, tetapi dari keberanian untuk terus melangkah.
Dari bengkel tambal ban kecil hingga podium kelulusan kampus besar, langkah Alfian membuktikan kalau mimpi gak punya yang namanya batas.
Jadi, kamu sekarang masi ragu untuk berjuang hanya karena tantangan kecil di depanmu? Mungkin sekarang waktunya belajar dari Alfian kalau disabilitas bukan keterbatasan, melainkan bentuk lain dari kekuatan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Unair.ac.id