INDOZONE.ID - Institut Teknologi Bandung (ITB) mengambil peran sebagai mitra dalam kerja sama “Indonesia-Japan Consortium for Smart Industrial Safety (IJCSIS).
Konsorsium ini melibatkan berbagai unsur, dari pemerintah, akademisi, dan pelaku industri dari kedua negara.
Konsorsium ini dibuat untuk mempercepat penggunaan teknologi berbasis Industri 4.0. Kerja sama ini guna meningkatkan keselamatan kerja pada sektor industri, khususnya industri kimia.
Pihak akademisi dari Indonesia diwakili oleh Universitas Indonesia (UI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Sedangkan unsur industri oleh Federation of the Indonesian Chemical Industry (FIKI) dan Responsible Care Indonesia (RCI).
Baca juga: Jangan Sampai Salah! 5 Tips Dalam Memilih Organisasi Kampus
Sementara dari pihak Jepang, kerja sama ini melibatkan Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT), Yokohama National University (YNU).
Lalu dari unsur industri ada Japan Electric Measuring Instruments Manufacturers Association (JEMIMA), dan Japan Electronics and Information Technology Industries Association (JEITA).
Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi ITB, Prof. Lavi Rizki Zuhal menyebut bahwa konsorsium ini adalah langkah strategis, khususnya memperkuat kerjasama kedua negara di bidang keselamatan industri.
“Momentum ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat kolaborasi antara Indonesia dan Jepang. ITB terhormat dapat berperan aktif dalam pengembangan Smart Industrial Safety di Indonesia,” ujarnya.
Ia menegaskan, ITB bakal berperan jadi pusat pengetahuan dan riset pengembangan teknologi digital untuk keselamatan industri.
Baca juga: Unesa Menginspirasi: Luncurkan Buku Penggerak Asta Cita
Selain itu, ia mengaku bahwa ITB sudah kembangin beberapa riset terapan. Mulai dari sensor cerdas, sistem prediktif, dan digital twin.
ITB juga terus berkomitmen untuk melakukan kajian akademik yang dapat mendukung harmonisasi kebijakan kedua negara.
Kerja sama ini juga jadi momen untuk bisa mengembangkan program pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia. Lalu juga bisa sebagai kegiatan pertukaran teknologi dan kemitraan industri.
“Kami berharap kolaborasi ini dapat memperkuat kapasitas nasional dalam menghadapi tantangan keselamatan industri di era digital dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat, dunia usaha, serta sektor pendidikan,” katanya.
Baca juga: Mahasiswa UNY: Guru Bukan Profesi Rendahan, Pilar Utama Generasi Masa Depan
Lewat konsorsium ini, beberapa teknologi yang dikembangkan seperti Artificial Intelligence (AI), Machine Learning, Internet of Things (IoT), Big Data Analytics, Cloud Computing, Robotic Automation, Augmented Reality (AR), Virtual Reality (VR), dan Cybersecurity.
Keterlibatan ITB dalam konsorsium ini kembali menegaskan bahwa kampus itu jadi ruang untuk riset multidisiplin dan pengembangan inovasi teknologi. Hal ini diharapkan bisa mendukung terciptanya industri cerdas dan berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Itb.ac.id