Mitos vs Fakta tentang Sempro (freepik.com)
INDOZONE.ID - Seminar proposal (sempro) sering jadi hal menakutkan bagi mahasiswa tingkat akhir. Banyak mahasiswa menganggap momen ini sebagai ujian penentu kelulusan, bahkan tak jarang yang stres duluan sebelum hari H tiba.
Padahal, sebagian besar ketakutan itu cuma mitos. Yuk, simak berbagai mitos seputar sempro yang selama ini beredar di kalangan mahasiswa, sekaligus menjelaskan fakta ilmiah dan logis di baliknya.
Baca juga: 6 Tips Buat Judul Skripsi yang Tepat: Jangan Terlalu Panjang dan Umum
Banyak mahasiswa berpikir kalau sempro adalah “ujian hidup dan mati” yang menentukan nasib akademik mereka.
Faktanya, sempro bukan ajang untuk menilai kelulusan, tapi memvalidasi ide penelitian. Tujuan utamanya adalah memastikan kalau topik dan metode penelitian layak untuk dilanjutkan. Jadi, bukan soal nilai akhir, tapi tentang kelayakan sistem dan alur penelitian.
Kekhawatiran umum mahasiswa adalah dosen penguji akan memberi pertanyaan “trik” yang menjebak dan bikin panik.
Faktanya, pertanyaan dosen justru didasarkan pada pemahaman dasar dari proposal itu sendiri. Jika mahsiswa benar-benar memahami latar belakang dan teori penelitiannya, pertanyaan itu justru bisa jadi kesempatan untuk menunjukkan kesiapan dan penguasaan materi.
Ada anggapan bahwa proposal dengan judul panjang, teori kompleks, atau metode rumit lebih “berkelas”.
Faktanya, penelitian sederhana dengan tujuan jelas dan manfaat nyata bagi masyarakat, justru lebih dihargai. Dosen lebih mengutamakan kejelasan alur berpikir dan relevansi masalah, bukan seberapa rumit data atau istilah yang digunakan.
Beberapa mahasiswa sengaja memperbanyak halaman dengan teori tambahan, agar terlihat serius. Faktanya, dosen kini lebih menyukai proposal yang padat, runtut, dan mudah dipahami.
Konsep sederhana, tapi memiliki struktur logis jauh lebih menarik ketimbang proposal tebal dengan isi yang berputar di tempat.
Kalau ditarik benang merahnya, sempro bukan ujian akhir melainkan pintu awal menuju penelitian yang matang. Tahapan ini dirancang supaya mahasiswa bisa mendapat masukan berharga sebelum terjun ke riset yang lebih dalam.
Baca juga: 5 Ciri Skripsi Kurang Menarik dan Tips Menghindarinya
Bahkan kalau ada revisi, itu bukan tanda gagal, tapi kesempatan memperbaiki dan memperkuat argumen penelitian.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/@manuru.id