INDOZONE.ID - Pernah gak sih kamu merasa deg-degan parah tiap kali harus tampil di depan umum, padahal udah sering banget ngomong, presentasi, atau bahkan jadi MC di acara kampus?
Rasanya jantung mau copot, tangan dingin, dan otak tiba-tiba blank. Fenomena ini ternyata punya penjelasan psikologis yang menarik. Grogi bukan cuma soal seberapa sering kamu tampil, tapi seberapa siap mental kamu setiap kali naik panggung.
Baca juga: 4 Pola Pikir Public Speaking yang Bikin Mahasiswa Lebih Pede: Jangan Takut Memulai!
Menurut pendekatan psikologi komunikasi, kebiasaan tampil tanpa evaluasi justru bikin otak terus mengulang rasa takut yang sama. Artinya, semakin sering tanpa refleksi, makin besar kemungkinan grogi itu balik lagi.
Kenapa muncul rasa Grogi?
Biasanya, rasa grogi muncul karena dua hal utama yaitu tekanan performa dan fokus yang salah arah. Saat seseorang lebih sibuk memikirkan bagaimana penampilannya akan dinilai orang lain, sistem saraf otomatis tubuh langsung bereaksi seolah sedang menghadapi bahaya.
Deg-degan, berkeringat, dan lupa naskah adalah dampak biologis yang wajar dari sistem “fight or flight”. Tapi rasa grogi bukan hal yang harus dihilangkan sepenuhnya.
Karena itu bisa diubah jadi energi positif lewat pengelolaan mental yang tepat. Beberapa teknik komunikasi publik modern punya cara sederhana tapi efektif untuk menaklukkannya.
konsep Somatic Labeling
Daripada bilang “gue grogi”, ubah label itu jadi “gue excited”. Dengan mengganti kata, otak akan memaknai sensasi tubuh secara berbeda dari ancaman menjadi energi. Deg-degan bukan tanda takut, tapi tanda siap.
Teknik Attentional Reframing
Teknik ini untuk menggeser fokus dari diri sendiri ke audiens. Alih-alih berpikir “gue takut salah”, coba arahkan energi ke pesan yang ingin disampaikan, “apa hal penting yang bisa mereka dapat dari gue?”. Teknik ini bisa menstabilkan beban mental, sehingga lebih fokus dan percaya diri.
Latihan Grounding 5-4-3-2-1
Saat panik sebelum tampil, fokuskan diri pada lima hal yang bisa dilihat, empat hal yang bisa disentuh, tiga suara yang didengar, dua aroma yang dicium, dan satu sensasi fisik yang dirasakan (misalnya suhu udara). Latihan ini membantu otak menenangkan diri dari overthinking sebelum bicara di depan orang banyak.
Intinya, grogi itu wajar semua orang pernah mengalaminya. Bedanya, yang bisa mengatasinya adalah mereka yang punya sistem dan refleksi diri. Bukan sekadar sering tampil, tapi juga tahu kapan harus mengevaluasi diri dan memperbaiki pola pikir.
Jadi, buat kamu yang masih sering deg-degan saat tampil di depan kelas, forum, atau acara kampus, jangan buru-buru menganggap diri gagal.
Baca juga: 7 Alasan Kenapa Mahasiswa Sering Kehilangan Arah dan Tips untuk Menemukannya lagi!
Bisa jadi, kamu hanya perlu memperbaiki cara melihat rasa takut itu sendiri. Ubah grogi jadi bahan bakar semangat, bukan penghambat langkah.
Nah, setelah tahu rahasianya, masih mau terus lari dari kesempatan tampil? Atau justru siap buktiin kalau kamu bisa ngomong tanpa gemetar lagi?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/@nurbicara