Tanpa Sadar, Mahasiswa Bisa “Membunuh Karakter” Teman Sendiri Lewat Komunikasi. Ini Dia Tips Untuk Menghindarinya!
INDOZONE.ID - Di lingkungan kampus yang penuh interaksi sosial, komunikasi seharusnya jadi jembatan untuk memahami orang lain. Tapi sayangnya, gak jarang justru berubah jadi alat untuk menjatuhkan. Tanpa sadar, kata-kata yang diucapkan bisa jadi racun yang menyebar cepat bahkan lebih tajam daripada tindakan fisik.
Pembicaraan tentang toxic people pasti ada di setiap circle dalam kampus, tapi jarang ada yang sadar kalau kadang “racunnya” justru keluar dari mulut sendiri.
Baca juga: 6 Tips Jitu Buat Mahasiswa Baru untuk Survive di Semester Awal, Wajib Cari Teman yang Suportif
Di dunia kampus yang serba kompetitif, obrolan ringan antar mahasiswa bisa berubah jadi bahan perundungan halus. Misalnya, bercanda soal penampilan teman, cara ngomong, atau bahkan nilai akademik. Mungkin awalnya terasa lucu, tapi bagi orang yang jadi bahan candaan, itu bisa menggerus rasa percaya diri pelan-pelan.
Dari Bercanda Jadi Penghinaan, dari Label Jadi Vonis
Sering kali, “candaan” di kampus justru berubah jadi penghinaan terselubung. Contohnya, ketika seseorang dijuluki “baper” hanya karena dia berani menyampaikan pendapatnya.
Lama-kelamaan, label itu menempel kuat dan memengaruhi cara orang lain memperlakukannya. Akibatnya, korban kehilangan ruang untuk berkembang, karena apa pun yang dia lakukan akan selalu ditafsir dari label tersebut.
Begitu juga dengan gosip yang dibungkus seolah-olah “cerita ringan”. Di tongkrongan kampus, obrolan “katanya dia begini…” bisa berkembang jadi cerita yang dipercaya banyak orang, meski belum tentu benar.
Korbannya kehilangan kesempatan menjelaskan, dan reputasinya bisa rusak dalam hitungan hari. Yang lebih berbahaya lagi adalah saat seseorang menyindir dengan dalih peduli. Kalimat seperti “sayang banget dia cantik tapi sombong ya” terdengar sepele, tapi menyimpan niat menjatuhkan.
Di dunia komunikasi, ini disebut sebagai bentuk character assassination atau pembunuhan karakter yang dilakukan lewat kata-kata halus namun tajam.
Diam Bukan Selalu Emas
Masalah lain yang sering terjadi di lingkungan mahasiswa adalah diamnya orang-orang yang tahu kebenaran. Banyak yang memilih bungkam ketika melihat teman lain jadi korban gosip atau fitnah, dengan alasan “gak mau ikut campur”.
Padahal, diam dalam situasi seperti itu sama artinya dengan menyetujui kebohongan. Di dunia kampus yang penuh interaksi dan opini, sikap diam bisa memperpanjang rantai salah paham dan perundungan sosial.
Belajar Bicara dengan Empati
Kampus seharusnya jadi tempat tumbuhnya intelektual dan empati. Sebagai mahasiswa, sudah waktunya untuk sadar kalau komunikasi bukan sekadar menyampaikan, tapi juga menjaga.
Baca juga: 7 Tipe Teman Kuliah yang Pasti Pernah Kamu Temui: Dari si Rajin sampai Deadline Fighter!
Satu kalimat bisa menyelamatkan reputasi seseorang, tapi juga bisa menghancurkannya. Jadi, sebelum melontarkan komentar atau membagikan cerita, pikirkan dulu apakah ini membangun, atau justru melukai?
Karena di balik kata-kata yang ringan, bisa jadi ada karakter yang hancur diam-diam. Nah, apa kamu saat ini sedang menjadi korban atau mungkin pelaku?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/@mudahbersuara