ITB Nyata Berdampak! Setetes Air Minum dari Sistem Membran Ultrafiltrasi IPB Untuk Komunal di Desa Domas
INDOZONE.ID - Di kawasan pesisir Desa Domas, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang, Provinsi Banten, sebuah langkah terobosan dilakukan oleh tim pengabdian masyarakat dari Institut Teknologi Bandung (ITB).
Desa yang dilanda intrusi air laut ini menghadapi kondisi serius dimana air sumur memiliki kadar Total Dissolved Solids (TDS) lebih dari 700 mg/L dan tidak layak untuk dikonsumsi. Ketua RT setempat Asmarudin menyatakan kalau ketersediaan air besi di sangat terbatas di Desa Domas.
Baca juga: ITB Jadi Tuan Rumah CODH-2025, Momentum Kerja Sama Global di Bidang Humaniora Digital
"Ketersediaan air minum di sini sangat langka. Sekitar 90% air di daerah ini payau," jelas Asmarudin seperti yang dilansir dari laman resmi ITB pada Rabu (5/11/2025).
Asmarudin juga menjelaskan kalau sedang kemarau, warga biasanya membeli air dari mobil tangki. Untuk minum sehari-hari, warga menggunakan air isi ulang galon, karena biasanya air sumur hanya bisa digunakan untuk mandi dan air sungai gak bisa digunakan.
Dengan latar belakang itulah Sebagai bagian dari Program Pengabdian Masyarakat ITB skema Top-Down Tahap I tahun 2025, memutuskan memasang sistem penyediaan air dengan alat membran ultrafiltrasi (UF) untuk kebutuhan air minum komunal di desa ini.
Tahapan Program dan Teknologi yang Digunakan
Kegiatan tersebut dilakukan dalam dua tahap yaitu survei lokasi pada 23 Juli 2025, kemudian pemasangan sistem filtrasi pada 10 hingga 11 Oktober 2025.
Tim dipimpin oleh Rofiq Iqbal, S.T., M.Eng., Ph.D. dari Prodi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB, yang melibatkan mahasiswa, teknisi, serta dukungan stakeholder desa dan Kementerian Desa.
Teknologi ultrafiltrasi yang digunakan mampu menyaring air melalui membran berukuran pori 0,01-0,1 µm sehingga dapat memisahkan zat terlarut besar, koloid, bakteri, dan partikel tersuspensi.
Dengan demikian, air sumur yang sebelumnya hanya layak dipakai untuk mandi kini bisa diubah menjadi air layak konsumsi. Unit instalasi meliputi toren berkapasitas 500 liter dan sistem pre-treatment untuk menjaga kualitas air hasil filtrasi.
Tantangan di lapangan termasuk persiapan lahan, pembuatan pondasi kokoh untuk alat, dan pelatihan pengelolaan oleh masyarakat.
“Terdapat yayasan desa yang dipercaya untuk mengelola keberlanjutan alat serta kepala teknis desa yang telah diberi arahan oleh kami dalam membantu pemeliharaan seperti kapan harus dikuras dan digunakan dengan efektif,” ujar Rofiq Iqbal.
Kolaborasi Kampus dan Komunitas Lokal
Program ini juga menjadi momen penguatan kapasitas bagi masyarakat. Warga desa dilibatkan mulai dari survei kondisi air, pemasangan alat, hingga pemeliharaan jangka panjang.
Hal ini menjadi bagian penting agar sistem tetap berjalan mandiri dan berkelanjutan. Ketua RT 09 Desa Domas, Asmarudin, menyampaikan apresiasi atas proyek ini.
“Jika ada bantuan seperti ini, saya mengucapkan terima kasih. Semoga kami dapat memanfaatkan air sumur ini sebagai air minum bagi masyarakat.” ujar Asmarudin
Langkah ITB di Desa Domas memunculkan harapan kalau setiap kampus bisa menjadi agen perubahan bagi lingkungan sekitarnya. Ketika teknologi dan komunitas berkolaborasi, hasil bukan hanya konstruksi alat, tetapi kualitas hidup masyarakat yang membaik.
Nah, apa kamu sudah siap jadi agen perubahan di lingkungan sekitarmu?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Itb-ad.ac.id