INDOZONE.ID - Inovasi COLSENSE karya mahasiswa berhasil menarik perhatian dalam kegiatan Call for Research SDGs Universitas Airlangga (UNAIR) 2025.
Acara tersebut diselenggarakan pada 28 November 2025 di Airlangga Convention Center (ACC).
Baca juga: Jurusan Unik! Undana Pamer Karya Mahasiswa Teknik Tenun Ikat di IPACS 2025
COLSENSE adalah sebuah sistem yang dikembangkan untuk melakukan deteksi cepat terhadap bakteri Escherichia coli (E. coli) pada air.
Inovasi tersebut lahir sebagai jawaban atas kendala yang selama ini dihadapi dalam pemeriksaan kualitas air.
Metode konvensional, seperti filter membran atau tabung ganda, terkenal membutuhkan waktu lama, berbiaya tinggi, dan sangat bergantung pada ketersediaan fasilitas laboratorium.
COLSENSE hadir dengan pendekatan modern yang menggunakan teknologi sensor nanokomposit ZnO-PVA yang terintegrasi dengan Internet of Things (IoT).
Teknologi berbasis IoT ini memungkinkan COLSENSE untuk memberikan hasil deteksi dalam waktu kurang dari lima jam.
Selain cepat, hasilnya juga dapat ditampilkan secara real time melalui dashboard digital.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh sekelompok mahasiswa UNAIR yang berasal dari berbagai program studi.
Tim terdiri dari, Angellita Wijaya Gunawan dari prodi Rekayasa Nanoteknologi, Mochammad Ivan Abdillah Putra Ginka dari Teknik Biomedis, Annisa Choirun Nadzifah dan Paskah Verjinia Panjaitan dari Matematika, Raesutha Arya Cakrashena dari Sistem Informasi.
Baca juga: UGM Perkuat Standar Internasional Enam Prodi Lewat Visitasi Akreditasi ASIIN
Pengembangan COLSENSE dibimbing langsung oleh Prof Dr Prihartini Widiyanti drg MKes SBio CCD.
Pengunjung merespons sesi pameran COLSENSE dengan tingkat antusiasme yang luar biasa.
Banyak peserta yang mendatangi stan COLSENSE, dan terlibat diskusi mengenai proses fabrikasi serta potensi untuk kolaborasi pengembangan.
Menurut Angellita, lonjakan ketertarikan dari para pengunjung menjadi motivasi tersendiri bagi tim.
“Kami sangat bersyukur karena penelitian ini tidak hanya mendapat apresiasi secara akademik. Tetapi juga dilihat sebagai solusi yang benar-benar bisa diterapkan oleh lembaga dan masyarakat,” ungkap Angellita.
Seorang mahasiswa Biologi yang datang ke stan mengaku takjub karena proses pengujian mutu air hanya memakan waktu singkat, berbeda dengan metode konvensional yang perlu waktu hingga beberapa hari.
“Ini inovasi yang luar biasa. Saya bahkan nggak nyangka kalau pengujian air itu bisa dilakukan dengan cara singkat tanpa harus menunggu 4–5 hari dengan sensor elektrokimia dan IoT,” katanya.
Melihat respons positif yang didapat, tim berharap inovasi ini dapat segera diuji lapangan, dikolaborasikan dengan mitra eksternal, dan diproduksi massal untuk memberikan manfaat luas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Unair.ac.id