Rabu, 17 DESEMBER 2025 • 17:00 WIB

Mahasiswa ITS Ciptakan EyeXaminer, Alat Deteksi Dini Retinopati Diabetik Portable

Author

Simulasi pengambilan citra retina (its.ac.id)

INDOZONE.ID - Retinopati Diabetik adalah komplikasi diabetes yang punya risiko tinggi kebutaan permanen jika lambat ditangani. Sebab, prosedur pemeriksaan mata konvensional yang butuh waktu lama.

Tak ayal, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menghadirkan inovasi EyeXaminer, sebuah perangkat deteksi dini portabel dan terhubung dengan smartphone.

Ketua tim EyeXaminer, Andi Bintang Adi Putra, mengatakan pemeriksaan mata konvensional saat ini terhalang masalah waktu. Hal ini karena ada sejumlah tahapan yang memakan durasi lama, seperti wajib menggunakan obat tetes mata dan menunggu 40 menit.

“Sangat disayangkan, pasien sering datang saat kondisi sudah parah karena enggan mengantre lama akibat prosedur panjang,” ungkapnya.

Baca juga: UPI Membuat Inovasi Sampah Organik Jadi Telur Omega Super Melalui Program MoMA

Fitur EyeXaminer

Tim EyeXaminer mengembangkan alat fundus capture portabel non-mydriatic yang bisa digunakan tanpa obat tetes mata. Alat ini dapat memanfaatkan kamera pada smartphone berbasis inframerah yang dilengkapi sama eyecup untuk menciptakan kondisi gelap.

“Desain ini memungkinkan pupil mata pasien melebar secara alami dalam kondisi gelap, sehingga pengambilan citra retina dilakukan lebih nyaman,” jelasnya.

Salah satu fitur menarik EyeXaminer ini ada pada Deep Learning metode Convolutional Neural Network (CNN) Multimodal. Sistem ini bisa mendeteksi tingkat keparahan penyakit dalam lima tahapan, mulai dari paling normal hingga parah.

“Jadi tingkatannya itu ada normal, ringan, sedang, berat, sama yang terakhir parah atau Proliferative Diabetic Retinopathy (PDR),” rincinya.

Baca juga: Unhas Kerahkan Penuh Dokter Spesialis, Jamin Penanganan Medis Korban Bencana Optimal

Mahasiswa yang akrab dipanggil Abin ini juga memproyeksikan terkait estimasi waktu risiko kebutaan berdasarkan parameter klinis, seperti Indeks Massa Tubuh (IMT), riwayat merokok, usia, dan durasi pasien diabetes.

“Prediksi tersebut diolah secara menyeluruh dengan menggabungkan citra fundus dan data klinis pasien,” paparnya.

Pemeriksaan Jadi Lebih Efisien

Inovasi Abin dan tim ini terbukti bisa memangkas waktu pemeriksaan yang awalnya satu jam, saat ini hanya satu sampai dua menit. Berkat inovasi ini, tim meraih medali perunggu kategori Prestasi dan mendapatkan medali perak kategori Poster di ajang Pekan Ilmiah Nasional (Pimnas) 2025.

“Alat ini diharapkan dapat menjadi solusi pemeriksaan yang cepat dan akurat untuk meminimalkan risiko kebutaan permanen,” jelas Abin.

Baca juga: Anti-Stres Penolakan Judul Skripsi: Kuasai 7 Kesalahan Fatal yang Harus Dihindari Mahasiswa

Harapan Tim k Depannya

Tim EyeXaminer pun berencana menyempurnakan prototipe dengan menambahkan berbagai fitur, seperti fokus kamera otomatis, perluasa dataset gambar, dan peningkatan spesifikasi kamera.

“Kami perlu kerja sama antar rumah sakit lagi untuk pengambilan data yang lebih luas,” ujar Abin.

Ia juga ingin bahwa inovasi ini bisa dimanfaatkan secara luas di fasilitas kesehatan tingkat pertama, seperti Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).

Selain itu, inovasi ini diharapkan menjadi upaya untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya deteksi dini untuk mencegah risiko fatal.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Its.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU