INDOZONE.ID - Dua mahasiswa program studi Teknik Bioenergi dan Kemurgi, Institut Teknologi Bandung (ITB), Arsyad Arif Novitrian dan Indah Patricia Suwandoro, berhasil menciptakan terobosan baru di bidang energi terbarukan.
Mereka memanfaatkan limbah organik seperti daun kering dan serabut kelapa, untuk diolah menjadi bio-briket sebagai sumber energi alternatif yang efisien.
Baca juga: Briket Limbah Batok Kelapa Karya Mahasiswa UMY Berhasil Tembus Pasar Eropa
Inovasi tersebut lahir dari keinginan untuk mengelola tumpukan sampah di lingkungan kampus ITB Jatinangor dan limbah rumah tangga menjadi produk yang memiliki nilai guna.
"Kami menggabungkan dua bahan dengan karakter berbeda. Daun kering yang cepat menyala dan serabut kelapa yang memiliki kadar lignin tinggi sehingga menghasilkan briket yang efisien," tutur Arsyad.
Selain efisien dalam penggunaan, produk ini juga ramah lingkungan. Tim pengembang menggunakan pati tapioka sebagai bahan perekat alami, yang menjadikan briket 100% dapat terurai (biodegradable).
Keunggulan lainnya adalah asap dan bau yang dihasilkan jauh lebih sedikit dibandingkan membakar limbah secara langsung, bahkan sisa abunya bisa dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman.
Baca juga: Mahasiswa Telekomunikasi ITB Raih Juara 1 Nasional Huawei ICT Competition
Proses pembuatan bio-briket tergolong sederhana namun sistematis. Pertama, sampah organik dikeringkan lalu dimasukkan ke dalam kaleng tertutup untuk menjalani proses karbonisasi atau pengarangan.
Setelah menjadi arang, bahan tersebut dihancurkan hingga halus, dicampur dengan lem tapioka, dan dicetak menggunakan tangan.
Langkah terakhir adalah menjemur briket di bawah sinar matahari selama dua hingga tiga hari agar kering sempurna.
Karya inovatif ini dipamerkan dalam ajang "ALICE: Abyanara’s Legendary Imagination, Creativity, and Enchantment".
Baca juga: Incar Gelar Juara Kembali, Garuda UNY Andalkan Inovasi dan Efisiensi Menuju SEM Asia-Pacific 2026
Acara tersebut merupakan pameran hasil karya mahasiswa Teknik Bioenergi dan Kemurgi angkatan 2024.
Dari sisi ekonomi, dengan modal produksi antara Rp500 hingga Rp1.000 per unit, briket dapat dijual seharga Rp1.500 sampai Rp2.000, sehingga berpotensial bagi sektor industri kecil maupun rumah tangga.
Meski sudah menunjukkan hasil positif, tim mahasiswa ITB masih menghadapi tantangan dalam hal menstandarisasi komposisi bahan agar kualitasnya tetap konsisten.
Rencananya, mereka akan melakukan uji laboratorium lebih mendalam terkait nilai kalor dan emisi yang dihasilkan.
Baca juga: Salut! 4 Mahasiswa ABT Ini Berdayakan UMKM Lewat Inovasi Digital
Mereka juga berharap dapat bekerja sama dengan UMKM dan bank sampah lokal untuk mewujudkan ekonomi sirkular yang berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Itb.ac.id