INDOZONE.ID - Hibatulloh Al-Mubarok, mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), sukses merintis usaha madu klanceng dari lingkungan pondok pesantren.
Melalui bendera Klanceng Edufarm, pemuda berusia 21 tahun tersebut berhasil memasarkan produknya hingga ke berbagai pelosok Indonesia.
Memanfaatkan Lahan Pondok untuk Budidaya
Kisah sukses Hibat bermula dari keinginannya untuk mandiri secara finansial selama menempuh studi di Pondok Hajjah Nuriyah Shabran, Desa Makamhaji.
Berbekal pengalaman membantu usaha lebah keluarganya di Lampung, ia memutuskan untuk memanfaatkan lahan kosong milik pondok seluas hampir satu hektar untuk beternak lebah klanceng.
Lebah klanceng atau kelulut dalam jenis Trigona dikenal unik karena ukurannya yang kecil dan tidak memiliki sengat, sehingga relatif aman dibudidayakan.
Keunikan Rasa dan Khasiat Bee Berkah
Produk unggulannya, Bee Berkah, menawarkan madu dengan karakteristik rasa yang berbeda dari madu pada umumnya. Madu klanceng memiliki tekstur yang lebih encer dengan perpaduan rasa manis, masam, dan segar.
Selain rasanya yang unik, madu ini diklaim kaya akan antioksidan dan baik bagi penderita diabetes berdasarkan testimoni para pelanggannya.
“Ada yang kena diabetes, tapi dengan mengkonsumsi madu klanceng ini kok badan lebih enak, lebih enteng. Ada banyak sekali yang komentar seperti itu,” ungkap Hibat.
Baca juga: Peneliti UI Dorong Kemandirian Ekonomi Pesantren Lewat Inovasi Budidaya Lebah Madu
Jatuh Bangun dan Dukungan Pendanaan
Perjalanan bisnis Hibat tentunya tidak selalu mulus. Ia sempat mengalami kerugian belasan juta saat mencoba peruntungan di bisnis jual beli motor.
Namun, dengan sisa modal Rp500 ribu, ia bisa bangkit dan fokus mengembangkan Klanceng Edufarm.
“Kami mengangkat nama ‘edufarm’. Kami ingin meningkatkan edukasi yang kami arahkan melalui platform Instagram,” ungkapnya.
Kegigihannya membuahkan hasil saat ia memenangkan pendanaan dari Program Inovasi Kewirausahaan UMS dan hibah nasional P2MW 2025 senilai total belasan juta rupiah.
Bersama rekan-rekannya dan bimbingan dosen, modal tersebut digunakan untuk mempercantik kemasan dan menambah jumlah sarang lebah.
“Kami melihat adanya peluang besar dalam usaha ini, karena madu klanceng memiliki keunikan khasiat dan nilai jual yang tinggi, namun belum banyak diketahui masyarakat. Apalagi pesaingnya belum terlalu banyak, sehingga masih sangat potensial,” paparnya.
Baca juga: 10 Ide Jualan untuk Mata Kuliah Kewirausahaan
Pemberdayaan Petani dan Edukasi bagi Generasi Muda
Kini, bisnis yang dikelola Hibat telah mencatatkan omzet mencapai Rp60 juta dalam kurun waktu enam bulan.
Ia bahkan harus bekerja sama dengan petani lokal di Klaten, Sukoharjo, dan Karanganyar untuk memenuhi permintaan pasar yang mencapai 20 kilogram per bulan.
Tidak hanya mengejar keuntungan, Hibat juga aktif memberikan edukasi melalui Instagram dan buku panduan budidaya.
Ia ingin menularkan semangat wirausaha kepada anak muda lainnya. Baginya, kunci utama dalam bisnis madu adalah menjaga kejujuran untuk membangun kepercayaan konsumen.
Dengan jangkauan pasar yang sudah mencapai Riau hingga Lampung, Hibat optimis usahanya akan terus berkembang pesat ke depannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ums.ac.id