INDOZONE.ID - Mahasiswa dari Program Studi Teknik Informatika Universitas Surabaya (Ubaya), Chavel Aiko Ratu, berhasil menciptakan sebuah terobosan teknologi bernama Rasaya.
Program ini merupakan sistem informasi yang dirancang khusus untuk mendukung kegiatan konseling bagi siswa di sekolah melalui platform digital.
Melalui Rasaya, kondisi psikologis murid dapat dipantau lebih terstruktur menggunakan perangkat komputer maupun aplikasi di ponsel pintar.
Baca juga: UPI Turunkan Tim Trauma Healing untuk Pulihkan Psikologis Warga Aceh Utara
Ide pembuatan Rasaya bermula dari kepedulian Chavel terhadap tantangan yang dihadapi sekolah dalam mencatat dan mendeteksi masalah kesehatan mental siswa. Seringkali, gangguan mental pada remaja terlambat diketahui karena kurangnya pengawasan yang sistematis.
Untuk memperkuat landasannya, ia melakukan studi kasus dengan data yang diperoleh dari salah satu SMA di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.
“Berdasarkan wawancara dan kuesioner yang saya sebar, ternyata para siswa malu untuk mengekspresikan apa yang mereka rasakan secara langsung kepada gurunya. Jadi, guru juga tidak sepenuhnya paham terkait apa yang sedang dirasakan oleh siswanya,” jelas Chavel.
Untuk mengatasi kendala tersebut, ia mengembangkan Rasaya di bawah bimbingan dosen Dr. Liliana. Sistem tersebut menggunakan teknologi canggih bernama Lexicon-Based Sentiment Analysis.
Teknologi ini mampu menganalisis perasaan atau suasana hati siswa berdasarkan data yang dimasukkan, lalu mengelompokkannya menjadi kategori emosi positif, negatif, atau netral.
Baca juga: FIKES UB Hadirkan Layanan Analisis Komposisi Tubuh dengan Teknologi InBody 970 yang Lebih Akurat
Selain itu, terdapat algoritma khusus yang bisa mendeteksi apakah seorang siswa sedang mengalami stres akademik atau konflik sosial.
Agar hasilnya akurat, Chavel juga melibatkan psikolog anak dan remaja dalam memvalidasi analisis sistem tersebut.
“Selain itu, ada beberapa program menarik, seperti daily mood tracker, fitur lapor teman, refleksi harian, riwayat kondisi emosi, serta tren kelas dan angkatan. Jadi, sumber datanya bersifat multi informan dan tidak subjektif karena melibatkan guru, wali kelas, dan teman,” paparnya.
Dengan hasil analisis yang jelas, guru bimbingan konseling (BK) dapat mengambil keputusan lebih tepat dan efisien dalam memberikan pendampingan kepada siswa yang membutuhkan.
Proses pengembangan Rasaya bukanlah hal yang mudah. Chavel menghabiskan waktu selama empat bulan untuk merancang program tersebut.
Tantangan terberat baginya adalah memastikan kecerdasan buatan atau machine learning pada sistem dapat bekerja dengan akurasi tinggi, yang mana proses pengerjaannya memakan waktu hingga tiga bulan.
Saat ini, Chavel sedang terus menyempurnakan sistem Rasaya agar dapat segera digunakan oleh masyarakat luas.
Ia berharap inovasinya mampu memberikan dampak positif bagi dunia pendidikan, membantu sekolah, guru, serta orang tua dalam menjaga kesehatan mental generasi muda secara lebih berkelanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ubaya.ac.id