INDOZONE.ID - Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) menggelar pembekalan bertema "Tata Kelola Pemerintahan yang Bersih di Era Digital Governance" bagi para praja utama calon wisudawan/wisudawati 2026 di Jatinangor pada Kamis (7/52026).
Kegiatan ini merupakan langkah preventif IPDN dalam mencetak birokrat yang berintegritas dan antikorupsi sebelum mereka terjun sebagai aparatur sipil negara.
Rektor IPDN, Dr. Halilul Khairi, M.Si menegaskan bahwa tantangan menjaga integritas di era digitalisasi semakin berat.
"Kami harus membekali para calon ASN ini dengan fondasi moral dan knowledge tentang tata kelola pemerintahan yang bersih sedini mungkin," ujarnya.
Baca juga: MenpanRB Perkenalkan Wajah Baru Pelayanan Publik kepada 1.216 Calon Wisudawan IPDN
Tiga narasumber kompeten dihadirkan dalam kegiatan ini: Irjen Pol. Asep Guntur Rahayu (Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK RI), Prof. Dr. Akhsanul Khaq, M.B.A., CA., CSFA (Anggota III BPK RI), dan Irjen Pol. (Purn) Sang Made Mahendra Jaya, M.H. (Inspektur Jenderal Kemendagri).
KPK: 1.756 Kasus Korupsi Sejak 2004
Irjen Pol. Asep Guntur Rahayu memaparkan betapa masifnya korupsi di lingkungan pemerintahan. Sejak 2004 hingga 2026, tercatat 669 kasus di pemerintahan kabupaten/kota, 544 kasus di kementerian/lembaga, dan 220 kasus di pemerintahan provinsi.
Tiga jenis korupsi yang paling sering menjerat kepala daerah adalah gratifikasi, suap, dan pemerasan.
Untuk mengatasinya, KPK menerapkan strategi TRISULA, Pendidikan, Pencegahan, dan Penindakan yang diperkuat partisipasi publik sebagai social control.
"Pahami aturan yang ada dan jalankan sesuai koridornya, sehingga nanti tidak terjerat kasus korupsi," pesan Asep kepada para praja.
Bahaya Digitalisasi Tanpa Transformasi
Irjen Pol. (Purn) Sang Made Mahendra menggarisbawahi tiga masalah utama tata kelola yang akan dihadapi di lapangan: korupsi sistemik akibat celah prosedur, fragmentasi data antar sistem pemerintahan, serta digitalisasi yang berlangsung tanpa transformasi budaya.
"Kondisi ini membuat birokrasi tetap berjalan panjang; penyimpangan tetap terjadi, hanya caranya yang berbeda," tegasnya.
Ia mendorong para praja untuk membangun tiga fondasi: integritas sebagai landasan bertindak benar meski tanpa pengawasan, kompetensi adaptif terhadap perubahan teknologi, dan keberanian moral untuk menolak intervensi yang tidak sesuai aturan.
Empat Pilar Literasi Digital untuk ASN
Anggota III BPK RI, Prof. Akhsanul Khaq, menyoroti kondisi dunia yang penuh VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity). Pemerintah merespons dengan strategi SUPER (Sinergi, Unggul, Profesional, Empati, dan Rampak).
Namun ia mengingatkan lima hambatan besar era digital: ketimpangan antarwilayah, kualitas data, keamanan siber, adaptasi kecerdasan buatan, dan integritas SDM.
"Untuk menghadapi semua itu, praja IPDN harus menguasai empat pilar literasi digital: digital skills, digital ethics, digital culture, dan digital safety," ujarnya.
Sebagai penutup, IPDN menganugerahkan gelar Alumni Kehormatan kepada ketiga narasumber atas kontribusi mereka dalam penguatan tata kelola, pendidikan antikorupsi, dan pengawasan seleksi penerimaan praja di lingkungan IPDN.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Humas IPDN