Senin, 25 MEI 2026 • 14:30 WIB

Dosen UNAIR Ciptakan Inovasi Panel Surya, Berhasil Masuk Nominasi Ajang Nobel di Jerman

Author

 Dosen FTMM UNAIR, Tahta Amrillah S.Si., M.Sc., Ph.D., berhasil masuk nominasi 75th Lindau Nobel Laureate Meetings 2026. (unair.ac.id)

INDOZONE.ID - Dosen Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin Universitas Airlangga (UNAIR), Tahta Amrillah S.Si., M.Sc., Ph.D., mengembangkan inovasi nanomaterial untuk meningkatkan efisiensi panel surya.

Berkat riset tersebut, ia berhasil masuk dalam nominasi ajang internasional 75th Lindau Nobel Laureate Meetings 2026 yang akan berlangsung di Jerman mendatang..

Penelitian yang dikembangkannya berfokus pada rekayasa material berskala nano untuk memaksimalkan proses konversi cahaya matahari menjadi energi listrik.

Teknologi tersebut dikembangkan sebagai solusi atas keterbatasan panel surya konvensional yang dinilai belum mampu menyerap energi secara optimal.

Baca juga: Itera dan Mata Garuda Lampung Ajak Santri Bikin Balsem Herbal, Asah Literasi Sains dan Jiwa Wirausaha

Melalui manipulasi struktur material pada skala nano, ia berhasil menciptakan sel surya dengan tingkat efisiensi dan transparansi yang lebih tinggi.

Teknologi tersebut bahkan berpotensi diaplikasikan pada kaca jendela bangunan melalui konsep Building Integrated Photovoltaic (BIPV).

Penemuan material baru ini sangat krusial agar teknologi energi terbarukan (renewable energy) menjadi lebih aplikatif dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat luas,” tuturnya.

Menurutnya, pengembangan material baru merupakan langkah penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil sekaligus mempercepat pemanfaatan energi terbarukan di masa depan.

Baca juga: Mahasiswi UNAIR Ciptakan SAPI TEDUH, Teknologi Cerdas Penambah Produksi Susu Sapi

Selain fokus pada inovasi teknologi, ia juga mengangkat isu terkait potensi besar sumber daya alam Indonesia dalam mendukung industri energi bersih.

Sebagai negara tropis dengan paparan sinar matahari melimpah, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mengembangkan industri panel surya berbasis material lokal.

Ia menjelaskan bahwa sejumlah bahan seperti tembaga, zinc, dan sulfur sebenarnya dapat diolah menjadi komponen penting dalam pengembangan sel surya nasional.

Namun selama ini, banyak material tersebut masih diekspor dalam bentuk mentah tanpa nilai tambah yang maksimal.

Baca juga: Keren! Mahasiswa USK Raih Medali Perak Internasional Berkat Spray Sariawan dari Daun Sirih dan Lidah Buaya

“Indonesia punya segalanya, mulai dari bahan baku hingga sumber energinya. Saya berharap melalui nominasi internasional ini, diskusi di kancah global nanti dapat membuka jalan bagi hilirisasi material domestik agar memiliki nilai tambah tinggi,” ungkapnya.

Ia berharap dapat membuka peluang kolaborasi secara global untuk mendorong hilirisasi material dalam negeri dan memperkuat pengembangan teknologi energi terbarukan di Indonesia.

Ia turut mengajak generasi muda untuk melihat riset bukan hanya sekadar kewajiban akademik, melainkan bagian penting dalam menciptakan inovasi yang mampu membawa Indonesia bersaing di tingkat dunia.

Lewat capaian tersebut, UNAIR berharap pengembangan riset energi terbarukan dapat terus diperkuat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Unair.ac.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU