INDOZONE.ID - Mahasiswa Program Studi Teknik Informatika, Institut Teknologi Sumatera (ITERA) menciptakan terobosan dalam dunia pertanian modern.
Mereka mengembangkan sistem bernama "Smart Hydroponic Farming", sebuah perangkat kebun hidroponik cerdas yang mengintegrasikan teknologi Internet of Things (IoT) untuk merawat tanaman secara otomatis dan akurat.
Baca juga: ITB Ubah Sampah Rumah Tangga Jadi Pangan Bergizi Lewat Teknologi Apartemen Ayam
Inovasi tersebut lahir di bawah kepemimpinan Cornelius Linux, bersama rekan-rekannya yaitu Muhammad Yusuf, Chandra Budi Wijaya, dan Louis Hutabarat.
Proyek yang dibimbing oleh dosen Muhammad Habib Algifari ini, merupakan bagian dari Program Hibah Penelitian Mahasiswa ITERA tahun 2025.
Tim memfokuskan penelitian mereka pada tanaman Stevia (Stevia rebaudiana), sebuah tanaman penghasil pemanis alami rendah kalori bernilai ekonomi tinggi, tapi sering sulit berkembang maksimal jika ditanam dengan metode biasa.
Keunggulan utama dari teknologi diciptakan terletak pada penggunaan algoritma Fuzzy Logic metode Mamdani, yang ditanamkan dalam perangkat otak elektronik bernama ESP32.
Teknologi tersebut dapat membuat sistem untuk berpikir dan mengatur kadar nutrisi serta tingkat keasaman (pH) air secara otomatis melalui pompa khusus.
Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan di Greenhouse Kebun Raya ITERA, alat ini menunjukkan kinerja yang sangat mengagumkan.
Tingkat kesalahannya sangat minim, yaitu hanya sekitar 1,05 persen untuk pengaturan nutrisi dan 0,93 persen untuk kestabilan pH.
Selain bekerja secara otomatis, sistem juga sangat mudah dipantau oleh penggunanya. Muhammad Yusuf menjelaskan bahwa timnya telah membangun aplikasi berbasis web bernama “Stevia Hydro Farm”.
“Kami merancang antarmuka yang menampilkan data real-time, log aktivitas, hingga grafik pertumbuhan. Bahkan, pengguna dapat mengatur target nutrisi mingguan secara fleksibel melalui smartphone,” jelas Yusuf.
Hadirnya inovasi ini menjadi jawaban atas tantangan pertanian konvensional yang sering kali memboroskan sumber daya.
Baca juga: Mahasiswa Unila Sabet Medali Emas di PENA 2, Ciptakan Inovasi Aplikasi untuk Pemerataan Pendidikan
Karena sistem mampu melakukan perbaikan mandiri saat kondisi air tidak sesuai target, penggunaan pupuk menjadi lebih efisien dan tenaga kerja manual dapat dikurangi secara drastis.
Saat ini, tim tengah mendaftarkan karya mereka untuk mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) sebagai bentuk perlindungan hak cipta dan komitmen dalam menghadirkan produk riset yang bermanfaat bagi masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Itera.ac.id