INDOZONE.ID – Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa tidak semata-mata berfungsi sebagai sarana penyampaian informasi. Melalui bahasa, seseorang juga menyampaikan maksud, perasaan, dan tujuan tertentu yang tidak selalu diungkapkan secara eksplisit.
Persoalannya, makna suatu kalimat tidak selalu dapat dipahami hanya berdasarkan arti kata-kata yang menyusunnya.
Maksud sebenarnya dari suatu ujaran sering kali baru dapat ditangkap apabila konteks situasi, hubungan antarpenutur, dan latar pembicaraan turut dipertimbangkan. Persoalan inilah yang menjadi kajian utama dalam ilmu pragmatik.
Secara sederhana, pragmatik dapat didefinisikan sebagai cabang ilmu linguistik yang mengkaji makna bahasa berdasarkan konteks penggunaannya. Bidang ini berupaya menjelaskan bagaimana seseorang dapat memahami maksud suatu ujaran sesuai dengan keadaan yang melingkupi proses komunikasi tersebut.
Oleh karena itu, dalam pragmatik, suatu kalimat tidak dianalisis hanya berdasarkan struktur atau makna harfiahnya. Aspek-aspek lain juga perlu diperhatikan, seperti siapa yang menjadi penutur, kepada siapa ujaran tersebut disampaikan, kapan peristiwa tutur itu berlangsung, serta situasi yang melatarbelakangi terjadinya komunikasi.
Makna Bahasa Tidak Selalu Sama dengan Arti Harfiahnya
Salah satu hal yang menarik dalam pragmatik adalah adanya perbedaan antara makna yang sesungguhnya dimaksudkan oleh penutur dan arti literal dari kalimat yang diucapkan.
Sebagai contoh, ketika seseorang mengatakan, "Panas sekali di ruangan ini," secara harfiah kalimat tersebut hanya menyatakan bahwa suhu ruangan terasa panas.
Akan tetapi, dalam konteks tertentu, ujaran ini dapat mengandung maksud lain, misalnya permintaan agar lawan tutur menyalakan kipas angin, membuka jendela, atau menghidupkan pendingin ruangan.
Pendengar yang memahami konteks percakapan akan dapat menangkap maksud tersebut meskipun permintaan itu tidak disampaikan secara langsung.
Fenomena semacam inilah yang menjadi salah satu kajian utama pragmatik, yakni bagaimana manusia memahami maksud di balik suatu ujaran, tidak sekadar memahami makna kata-katanya.
Baca juga: Napak Tilas Laskar Pelangi di Museum Sastra Pertama di Indonesia
Perbedaan Pragmatik dengan Cabang Linguistik Lain
Dalam ilmu linguistik, terdapat beberapa cabang yang mengkaji bahasa dari sudut pandang yang berbeda-beda. Salah satunya adalah semantik, yang juga berkaitan dengan persoalan makna.
Meskipun demikian, terdapat perbedaan mendasar antara pragmatik dan semantik. Semantik lebih menitikberatkan pada makna kata atau kalimat secara umum dan lepas dari konteks, sedangkan pragmatik mengkaji makna dengan mempertimbangkan situasi dan konteks penggunaannya.
Sebagai ilustrasi, perhatikan kalimat, "Kamu pintar sekali." Secara semantik, kalimat ini bermakna bahwa seseorang memiliki kemampuan atau kecerdasan tertentu.
Namun, secara pragmatik, maknanya dapat berubah bergantung pada situasi pengucapannya. Apabila kalimat tersebut diucapkan setelah seseorang melakukan kesalahan, maka maknanya justru dapat berubah menjadi sindiran.
Perbedaan semacam inilah yang menjadikan pragmatik sebagai bidang kajian yang menarik dalam memahami proses komunikasi antarmanusia.
Unsur Penting dalam Kajian Pragmatik
Dalam memahami sebuah percakapan, pragmatik memperhatikan beberap unsur, penting, seperti:
1. Konteks
Konteks menjadi bagian utama dalam pragmatik. Konteks meliputi keadaan, tempat, waktu, serta situasi sosial ketika sebuah percakapan berlangsung.
Sebuah kalimat yang sama dapat memiliki makna berbeda jika digunakan dalam konteks yang berbeda.
Misalnya, kata “dingin” dapat berarti suhu rendah jika digunakan saat membicarakan cuaca. Namun, dalam konteks hubungan sosial, kata tersebut bisa menggambarkan sikap seseorang yang kurang ramah.
2. Penutur dan Lawan Tutur
Pragmatik juga melihat siapa yang berbicara dan siapa yang menerima pesan.
Hubungan antara penutur dan lawan tutur dapat memengaruhi cara sebuah kalimat dipahami.
Kalimat yang sama dapat memiliki kesan berbeda ketika disampaikan kepada teman dekat, orang tua, dosen, atau atasan.
3. Tujuan Komunikasi
Setiap ujaran biasanya memiliki tujuan tertentu. Seseorang tidak hanya berbicara untuk menyampaikan informasi, tetapi juga bisa untuk meminta, menyarankan, mengingatkan, atau memengaruhi orang lain.
Misalnya, seseorang berkata:
“Besok ada ujian, ya.”
Kalimat tersebut bisa sekadar memberi informasi, tetapi juga bisa menjadi pengingat agar seseorang mulai belajar.
Tindak Tutur dalam Pragmatik
Salah satu konsep terkenal dalam pragmatik adalah tindak tutur atau speech act.
Konsep ini menjelaskan bahwa ketika seseorang berbicara, sebenarnya ia sedang melakukan suatu tindakan melalui bahasa.
Misalnya:
“Saya berjanji akan datang besok.”
Kalimat tersebut bukan hanya rangkaian kata, tetapi juga merupakan tindakan berupa membuat janji.
Dalam pragmatik, tindak tutur biasanya dibagi menjadi beberapa jenis, seperti:
- Tindak tutur informatif, yaitu ujaran yang bertujuan memberikan informasi.
- Tindak tutur direktif, yaitu ujaran yang bertujuan meminta atau memerintah.
Tindak tutur ekspresif, yaitu ujaran yang menunjukkan perasaan atau sikap seseorang.
Pemahaman mengenai tindak tutur membantu melihat bahwa bahasa memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar menyampaikan kalimat.
Pragmatik dan Perkembangan Komunikasi Modern
Di era digital, kajian pragmatik semakin relevan karena komunikasi manusia tidak hanya terjadi secara langsung, tetapi juga melalui pesan singkat, komentar media sosial, dan berbagai platform digital.
Dalam komunikasi online, konteks sering kali menjadi lebih sulit dipahami karena tidak adanya ekspresi wajah atau intonasi suara. Sebuah pesan singkat dapat memiliki banyak interpretasi tergantung bagaimana penerima memahami maksud pengirimnya.
Oleh karena itu, pemahaman pragmatik membantu seseorang lebih bijak dalam menggunakan dan menafsirkan bahasa di berbagai situasi.
Pragmatik merupakan cabang ilmu linguistik yang mempelajarai bagaimana bahasa memiliki makna berdasarkan konteks dan situasi penggunaannya. Ilmu ini menunjukkan bahwa sebuah kalimat tidak selalu memiliki arti yang sama dengan maksud pembicaranya.
Melalui pragmatik, manusia dapat memahami bahwa komunikasi bukan hanya tentang kata-kata, tetapi juga tentang siapa yang berbicara, kepada siapa pesan disampaikan, serta tujuan di balik sebuah ujaran.
Dengan memahami konsep pragmatik, seseorang dapat menjadi lebih peka dalam berkomunikasi dan mampu menangkap makna yang lebih dalam dari setiap percakapan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal Nasional, Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, Jurnal Ilmiah Multidisipliner