Rabu, 15 JULI 2026 • 13:50 WIB

Tuesday With Morrie, Ketika Sebuah Cerita dalam Buku Mengubah Cara Pandang Seseorang Terhadap Hidup

Author

Kupas mendalam Tuesdays with Morrie, pelajaran cinta, keluarga, dan kematian dari kelas terakhir Morrie Schwartz. (NPR, Periplus)

INDOZONE.ID - "Tuesday With Morrie" adalah salah satu buku memoar paling berpengaruh yang ditulis oleh Mitch Albom, seorang jurnalis sekaligus penulis Amerika.

Diterbitkan pertama kali pada tahun 1997, buku ini telah terjual jutaan kopi sejak cetakan edisi pertamanya, dan menjadi salah satu karya non fiksi yang paling dikenang.

Latar Belakang dan Cerita

Buku ini diangkat dari kisah nyata, dimulai ketika Mitch Albom masih menjadi mahasiswa di Universitas Brandeis. Ia memiliki seorang Profesor favorit bernama Morrie Schwartz. 

Baca juga: Top 3 Rekomendasi Buku untuk Mahasiswa Upgrade Diri, Good Books, Good Reads!

Morrie menjadi mentor Mitch selama masa perkuliahannya. Bukan hanya sekedar mentor akademik, tetapi juga mentor kehidupan Morrie. 

Setelah bertahun-tahun semenjak kelulusan Mitch Albom, Ia lama tidak bertemu dengan Profesornya, Morrie, Kemudian pada tahun 1995, Morrie diwawancarai oleh Ted Koppel di acara Nightline ABC, dan Mitch melihatnya di TV.

Ia memutuskan untuk menghubungi Morrie kembali setelah itu. Saat pertemuan kembalinya ini, Mitch mengetahui bahwa Morrie mengidap ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis), penyakit saraf yang perlahan melumpuhkan tubuh namun membiarkan pikiran tetap jernih hingga akhir hayat.

Tergerak oleh kondisi mantan gurunya, Mitch mulai mengunjungi Morrie setiap hari Selasa selama beberapa bulan terakhir hidup Morrie.

Dari pertemuan-pertemuan inilah lahir serangkaian percakapan mendalam yang kemudian dituangkan Mitch menjadi buku ini semacam "kelas terakhir" yang diajarkan Morrie kepada muridnya, namun kali ini dengan topik yang jauh lebih personal, yaitu hidup itu sendiri.

Pada bab pertama yang berjudul "We Talk About the World", Mitch memperhatikan tumpukan koran bekas di dapur Morrie dan bertanya apakah gurunya itu masih peduli mengikuti berita meski tengah sekarat.

Morrie menjawab bahwa penyakitnya justru membuatnya semakin mampu merasakan penderitaan orang lain seolah itu miliknya sendiri.

Bab-bab berikutnya membahas berbagai sisi kehidupan seperti rasa kasihan pada diri sendiri, penyesalan, kematian, keluarga, emosi, dan pengampunan, namun topik kematianlah yang paling membekas.

Sejak divonis sakit hingga akhir hayatnya, Morrie tidak pernah menahan diri atau menunjukkan rasa takut, sebab baginya begitu seseorang belajar bagaimana menghadapi kematian.

Di saat itulah ia sesungguhnya belajar bagaimana menjalani hidup, sebuah keyakinan yang membuatnya ingin mati dalam ketenangan tanpa seorang pun menyaksikan.

Berbeda dengan pandangan pribadi bahwa menghadapi ajal barangkali akan terasa lebih ringan bila dilalui dalam tidur, bukan dalam kesadaran penuh dan kesendirian seperti yang diinginkannya.

Pada bab keluarga, Morrie menegaskan bahwa harta, uang, dan ketenaran tidak akan pernah bisa menggantikan kehadiran orang-orang terkasih.

Sejalan dengan gagasan penyair W.H. Auden bahwa manusia harus saling mengasihi atau kehilangan makna hidupnya.

sebuah pandangan yang tampaknya lahir dari latar belakang Morrie sebagai psikolog sosial, yang meyakini bahwa fokus hidup semestinya diarahkan pada cinta, keluarga, dan penghormatan, bukan sekadar uang dan kekuasaan.

Dan tampaknya pandangan inilah yang paling mengubah cara pandang Mitch yang sebelumnya begitu terpaku pada karier dan materi.

Momen paling menyentuh justru datang di pertemuan terakhir mereka saat keduanya berpisah untuk selamanya, sebuah bagian yang begitu emosional hingga terasa nyata dan berat untuk dibaca ulang.

Bahlan sampai perlu dilewati agar tidak larut dalam kesedihan. Di penghujung buku, Mitch merefleksikan bahwa gurunya mengajarkan satu hal penting.

Tidak pernah ada kata terlambat dalam hidup, sebuah pelajaran yang bahkan mendorongnya untuk kembali merajut hubungan dengan sang kakak yang lama terputus komunikasi.

Dan buku ini pun ia dedikasikan untuknya, dari seluruh perjalanan membaca kisah Morrie, muncul pula gagasan bahwa pengaruh seorang guru sejatinya tidak pernah benar-benar berhenti meski waktu terus berjalan.

Sebuah harapan yang membuat siapa pun ingin menemukan sosok "Morrie"nya sendiri, seseorang berpengalaman yang bisa membimbing melewati tantangan hidup dan menjadi panutan sejati.

Gaya Penulisan Mitch Albom dan Relevansi Hingga Masa Kini

Salah satu kekuatan buku ini terletak pada gaya penulisan Mitch Albom yang jujur dan personal. Ia tidak hanya menempatkan diri sebagai jurnalis yang mewawancarai narasumber, tetapi juga sebagai murid yang benar-benar terbuka menerima pelajaran hidup dari gurunya.

Struktur buku yang disusun berdasarkan pertemuan mingguan memberikan ritme membaca yang terasa seperti mengikuti kelas nyata, lengkap dengan "tugas" reflektif di setiap babnya.

Meski ditulis lebih dari dua dekade lalu, pesan dalam "Tuesdays with Morrie" tetap relevan di tengah kehidupan modern yang serba cepat.

Di era di mana banyak orang sibuk mengejar produktivitas dan pencapaian, buku ini menjadi pengingat untuk berhenti sejenak dan mempertanyakan hal-hal yang benar-benar bermakna dalam hidup.

Buku ini juga kerap direkomendasikan sebagai bacaan wajib bagi siapa saja yang sedang menghadapi masa sulit, kehilangan, atau sekadar mencari perspektif baru tentang arti hidup dan kematian.

"Tuesdays with Morrie" bukan sekadar kisah tentang seorang dosen dan mahasiswanya saja, melainkan kumpulan pelajaran hidup yang disampaikan dengan kejujuran dan kehangatan.

Baca juga: 7 Rekomendasi Buku yang Cocok Dibaca Mahasiswa Baru, Bantu Upgrade Diri dan Pola Pikir

Melalui buku ini, Mitch Albom berhasil mengubah momen-momen terakhir gurunya menjadi warisan berharga yang terus menginspirasi pembaca di seluruh dunia untuk hidup lebih bermakna, mencintai lebih tulus, dan menerima kefanaan dengan lebih damai.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: NPR, Gramedia

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU