INDOZONE.ID - Setiap kampus punya papan pengumuman resmi, akun Instagram humas, sampai grup WhatsApp (WA) jurusan.
Namun, kalau mau tahu informasi yang cepat menyebar dan dipercaya mahasiswa, sumbernya bukan itu semua. Ada satu "mading digital" tak resmi yang justru jauh lebih berkuasa, akun autobase atau menfess kampus.
Lebih Cepat dari Humas, Lebih Dipercaya dari Pengumuman Resmi
Akun autobase kampus, biasanya di X atau Instagram, bekerja dengan cara sederhana, siapa pun bisa mengirim pesan anonim lewat formulir, lalu admin mengunggah ulang tanpa mencantumkan identitas pengirim.
Baca juga: 8 Sisi Receh Dunia Kampus yang Gak Pernah Dibahas Tapi Paling Diingat
Awalnya, akun semacam ini cuma dianggap tempat curhat receh atau ajang cari jodoh diam-diam. Tapi lama-lama, fungsinya berkembang jauh lebih besar dari itu.
Info soal dosen yang tiba-tiba membatalkan kelas, jadwal ujian yang berubah mendadak, sampai peringatan soal oknum yang bermasalah di lingkungan kampus, sering kali lebih dulu menyebar lewat autobase dibanding pengumuman resmi dari pihak universitas.
Karena sifatnya anonim, orang jadi lebih berani melaporkan sesuatu yang sebenarnya sensitif untuk disampaikan lewat jalur formal, mulai dari dugaan pelecehan, dosen yang tidak adil, sampai praktik jual-beli nilai yang sebelumnya cuma jadi rumor tertutup.
Kenapa Mahasiswa Lebih Percaya Akun Anonim daripada Instansi Resminya Sendiri
Ironisnya, banyak mahasiswa mengaku lebih rutin memantau autobase dibanding akun resmi kampus. Alasannya sederhana, pengumuman resmi biasanya kaku, lambat, dan penuh birokrasi bahasa formal.
Sementara autobase menyampaikan info dengan bahasa sehari-hari, cepat, dan langsung menyasar apa yang benar-benar dikhawatirkan mahasiswa.
Hal ini menciptakan situasi uni, sistem informasi tidak resmi yang dikelola mahasiswa biasa justru punya kredibilitas lebih tinggi di mata mahasiswa lain dibanding sistem resmi yang dikelola institusi dengan sumber daya jauh lebih besar.
Selain soal informasi akademik, autobase kampus juga diam-diam berfungsi sebagai alat kontrol sosial. Perilaku buruk, baik dari mahasiswa maupun oknum pengajar, yang dulunya cuma jadi gosip tertutup di lingkaran kecil, sekarang bisa cepat menyebar luas dan menciptakan tekanan sosial nyata.
Bahkan, sampai memaksa pihak kampus mengambil tindakan resmi karena ramai dibicarakan publik lewat jalur anonim ini.
Di sisi lain, sistem ini juga rawan disalahgunakan untuk fitnah atau serangan pribadi tanpa verifikasi. Sebab, sifat anonim membuat siapa pun bisa mengirim narasi sepihak tanpa harus bertanggung jawab langsung atas apa yang mereka sampaikan.
Kenapa Fenomena Ini Jarang Dibahas Serius
Kebanyakan orang menganggap autobase kampus cuma hiburan receh generasi muda, bukan sistem informasi paralel yang punya pengaruh nyata terhadap keputusan mahasiswa sehari-hari, bahkan sampai memengaruhi reputasi dosen dan institusi.
Padahal, kalau ditelusuri lebih jauh, akun-akun semacam ini sudah bergeser fungsi menjadi semacam "media alternatif" yang tumbuh subur.
Baca juga: Bukan Resort, Ini Kampus di Indonesia yang Punya Pulau dan Kebun Binatang Mini
Setiap kampus punya papan pengumuman resmi, akun Instagram humas, sampai grup jurusan. Tapi, kalau mau tahu informasi yang benar-benar cepat menyebar dan dipercaya mahasiswa, sumbernya bukan itu semua.
Ada satu "mading digital" tak resmi yang justru jauh lebih berkuasa: akun autobase atau menfess kampus.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Quipper Campus