Ilustrasi jiwa pemimpin (freepik)
INDOZONE.ID - Saat ada organisasi atau aktivitas kampus, pernah nggak kamu ngerasa salah ambil keputusan dan pada akhirnya nyesel serta dihantui rasa bersalah? Keputusan yang muncul akibat overthinking atau karena impulsif ternyata bisa dicegah, lho.
Nah, ternyata skill bawaan seorang pengambil keputusan bisa diasah layaknya CEO atau ilmuwan. Yuk ikuti 'peta otak' ini buat bantu kamu jadi karakter yang tegas dan tepat dalam mengambil keputusan cerdas!
Ibarat roadmap, mental model adalah proses pemetaan cara berpikir yang bisa bantu arahkan pikiranmu supaya nggak tersesat dan nggak bias terhadap apa yang kamu percayai.
Kemampuan menilai probability atau kemungkinan sesuatu terjadi seringkali didasari oleh hal yang paling mudah diingat. Misal, setelah dengar berita pencurian di kos, kamu langsung parno di kos sendiri.
Baca juga: 7 Skill Digital Wajib Dikuasai Mahasiswa Biar Gak Ketinggalan Zaman
Padahal datanya belum tentu seburuk itu. Jadi, sebelum panik atau bereaksi berlebihan, coba lihat dan simak data yang lebih luas dulu.
Kalau ada dua penjelasan yang sama-sama masuk akal, pilih yang paling sederhana. Kadang solusi simpel justru paling efektif, seperti cek kuota internet dulu sebelum nyalahin HP lemot, atau cek bensin dulu sebelum menyalahkan motor dan bongkar mesin.
Karena teori yang lebih simpel justru punya 'explanatory power' yang lebih besar.
Baca juga: Ketua Organisasi Bukan Jaminan Personal Branding, Ini 4 Hal yang Harus Diperhatikan!
Dikutip dari Carl G. J. Jacobi, seorang matematikawan Jerman: daripada cuma mikirin gimana cara sukses, coba pikir juga gimana supaya nggak gagal. Misalnya: “Gimana caranya biar nggak males belajar?” bukan “Gimana biar rajin?”.
Cara ini bikin kamu sadar sama blind spot-mu atau faktor distraksi yang nggak pernah terbesit di pikiran, misal punya kebiasaan makan sebelum belajar yang justru bikin ngantuk.
Siapa yang sering cari validasi kalau lagi ngerasa benar? Kecenderungan mencari info yang bikin kita merasa benar itu termasuk konfirmasi yang bias.
Misal, pas nyusun skripsi cuma pilih teori yang mendukung hipotesis sendiri, padahal kalau kamu ulik sedikit lagi, kamu bisa nemu sanggahannya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/@ton_inmotion