Kategori Berita
KANAL
REGIONAL
Kamis, 16 OKTOBER 2025 • 16:39 WIB

Smart Patch dari Kulit Bawang Merah: Inovasi Mahasiswa Unhas yang Potensial Menjadi Terobosan Kesehatan

Smart Patch dari Kulit Bawang Merah: Inovasi Mahasiswa Unhas yang Potensial Menjadi Terobosan KesehatanTim Allizyme dalam Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE). (unhas.tv)

INDOZONE.ID - Tim mahasiswa Universitas Hasanuddin (UNHAS), membuat inovasi lewat sebuah patch transdermal pintar, yang dapat menargetkan obat langsung ke ginjal untuk mengatasi hipertensi renovaskular.

Produk inovatif ini dinamai QCT-LNP-TDP (Quercetin Lysozyme Nanopartikel Transdermal Patch). Inovasi ini memanfaatkan Quercetin, senyawa alami dari limbah kulit bawang merah, sebagai bahan aktif yang dibungkus dalam nanopartikel agar lebih stabil dan diserap tubuh secara optimal.

Baca juga: Dari Limbah Mata Tuna Jadi Suplemen Super! Inovasi IPB yang Bisa Bantu Lawan Stunting

Inovasi ini juga digarap dalam kerangka Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) oleh tim yang menamakan diri Allizyme Team.

Kenapa Ginjal dan Hipertensi Renovaskular?

Masalah utama dalam terapi hipertensi khususnya hipertensi jenis renovaskular adalah distribusi obat yang gak terfokus. Obat pemberian oral sering menyebar ke seluruh tubuh dan hanya sebagian kecil sampai di ginjal sisanya bisa menimbulkan efek samping.

Patch pintar ini menjawab dilema tersebut dengan pendekatan penghantaran obat secara transdermal dan strategi target aktif. Salah satu kuncinya adalah penggunaan Lysozyme sebagai kurir biologis yang bisa mengenali reseptor Megalin di ginjal, sehingga molekul obat lebih mudah tertuju ke organ yang butuh aksi obat.

Tim juga mendesain nanopartikel dengan ukuran sekitar 137,28 nanometer dan efisiensi pengemasan (enkapsulasi) hingga 96 persen artinya hampir semua quercetin dikemas dengan baik dan relatif terlindungi dari degradasi.

Hasil yang Menjanjikan dan Uji Keamanan

Uji pada hewan (in vivo) menunjukkan bahwa patch ini bisa menghasilkan kadar obat di ginjal sebesar 62,88 μg/mL dalam 24 jam  jauh lebih tinggi dibanding pemberian oral biasa yang hanya menghasilkan sekitar 8,46 μg/mL. 

Artinya, patch memungkinkan konsentrasi obat lebih tinggi di organ target tanpa memberi beban berlebihan ke tubuh secara umum.

Dari sisi keamanan, tim juga menjalankan uji hemolisis dan HET-CAM (uji iritasi pada pembuluh darah), yang menunjukkan bahwa patch tersebut tidak toksik dan aman untuk aplikasi transdermal jangka panjang.

Nilai Ilmiah dan Potensi Komersial

Bukan sekadar prestasi akademis  inovasi ini juga memancing potensi ekonomi. Dengan memanfaatkan limbah kulit bawang merah yang selama ini sering dianggap sampah, tim menegaskan bahwa sumber daya lokal bisa diolah menjadi produk farmasi bernilai tinggi. 

Dosen pembimbing menyebut kalau produk ini bisa membuka ranah bioekonomi berkelanjutan untuk masyarakat dan industri farmasi. Ke depannya, tim berharap hasil riset ini dapat didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dan dikembangkan menjadi produk komersial bersama industri farmasi di dalam negeri. 

Baca juga: Rb-AID: Inovasi Mahasiswa UGM untuk Deteksi Dini Kanker Mata pada Anak Berbasis AI

Selaras dengan Sustainable Development Goals (SDG), karya ini turut mendukung kehidupan sehat (SDG 3) dan pola produksi konsumsi yang bertanggung jawab (SDG 12).

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Unhas.tv

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Smart Patch dari Kulit Bawang Merah: Inovasi Mahasiswa Unhas yang Potensial Menjadi Terobosan Kesehatan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!