INDOZONE.ID - Universitas Indonesia (UI) dan National University of Singapore (NUS) gelar kolaborasi acara berjudul “Sustainability day: Sustaining Carbon, Sustaining Life” di Auditorium Juwono Sudarsono, FISIP UI, Depok, Kamis 16 Oktober 2025.
Kegiatan ini menjadi komitmen upaya mengurangi karbon dan mengajak masyarakat memahami dampak emisi karbon terhadap perubahan iklim.
Saat ini, karbon jadi salah satu tantangan terbesar bagi Indonesia dan dunia, bahkan Indonesia berada di posisi ke-42 dalam Climate Change Performance Index. Data ini menunjukan, bahwa performa perlindungan iklim cukup rendah.
Baca juga: Santri Juga Bisa Kuliah ke Luar Negeri! Ini Syarat dan 10 Tips Suksesnya
Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Kemahasiswaan Nurul Isnaeni, Ph.D mengungkapkan ini bukan cuma soal tren, melainkan hasil kesepakatan global dari 1992 di Rio de Janeiro.
“Bagi kita di kampus, sebagai mahasiswa adalah agen perubahan. Peran generasi muda dalam memastikan keberlanjutan sangat krusial. Jika tidak ada kesadaran kolektif, konsep sustainability hanya akan jadi kata-kata manis tanpa tindakan nyata,” ujarnya.
Ia juga berharap, forum ini membuat para mahasiswa semakin paham isu lingkungan dan energi, serta terlibat aktif karena semangat keberlanjutan yang harus diwariskan dan dijaga.
Baca juga: Cuma Modal 'Ular Tangga', Mahasiswa UI Terbang ke Yordania hingga Korea Selatan
Ari Mochamad dari Climate and Energy Lead at World Wide Fund for Nature Indonesia menegaskan, saat ini manusia berada di masa perubahan lingkungan fisik yang cepat.
Ditambah eskalasi emisi gas rumah kaca yang membuat magnitudo bencana makin besar. Selain itu, frekuensinya juga makin sering bahkan intensitas yang tinggi.
Hal ini membuat negara-negara di dunia menargetkan untuk menahan kenaikan suhu global di bawah 2 derajat celcius.
Baca juga: Untuk Mahasiswa! Ini Cara Baca Jurnal Cuma 10 Menit: Anti Stres, Skripsi Efisien
“Karena bagi negara-negara kepulauan kecil, 2 derajat Celcius berarti tenggelam, betapa pun baik mereka mengelola lingkungannya. Saat ini, suhu global sudah naik sekitar 1,1 derajat Celcius. Artinya, kita berpacu dengan waktu,” jelas Ari.
Ari menyarankan dua pendekatan, yakni mitigasi dan adaptasi. Mitigasi merupakan upaya buat menekan sumber emisi, seperti ketergantungan terhadap energi fosil. Sementara itu, adaptasi merupakan cara buat menyesuaikan diri terhadap perubahan yang ada.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ui.ac.id