INDOZONE.ID - Program Studi Kajian Terorisme SPPB Universitas Indonesia menyelenggarakan peluncuran dan diskusi Global Terrorism Index (GTI) 2025 di Kampus UI Salemba pada Rabu (11/2).
Acara ini menjadi wadah krusial bagi para pakar, penegak hukum, dan birokrat untuk menganalisis pergeseran lanskap terorisme dunia serta merumuskan langkah antisipasi dampaknya terhadap stabilitas nasional.
Dalam pembukaan acara, pihak SPPB UI yang diwakili oleh Ir. Maureen Pomsar Lumban Toruan, MM, menyatakan bahwa kolaborasi antara dunia pendidikan dan instansi terkait sangat krusial.
Tujuannya adalah agar riset mengenai terorisme tidak hanya berhenti di atas kertas, tetapi mampu memberikan kontribusi nyata bagi keamanan nasional.
Baca juga: Ketatnya Seleksi! Ini 5 Jurusan UI yang Paling Sulit Ditembus
Keynote speech disampaikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) yang diwakili BJP Mochamad Rosidi. Ia mengapresiasi kehadiran WTI 2025 sebagai instrumen penting untuk membaca tren global.
BNPT menekankan pentingnya data berbasis riset guna mempertajam Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme (RAN PE), agar kebijakan negara tetap relevan di tengah dinamika ancaman yang terus berubah.
Tim peneliti WTI melaporkan bahwa Indonesia mempertahankan predikat low impact pada tahun 2025 dengan skor 15, turun dari skor 18 pada tahun lalu.
Menurunnya jumlah penangkapan sebelum aksi teror menjadi faktor utama yang memengaruhi kalkulasi bobot indeks tahun ini. Uniknya, meski skor membaik, peringkat Indonesia justru bergeser ke posisi 45 dari sebelumnya 51.
Hal ini dijelaskan sebagai dampak dari dinamika keamanan global, di mana banyak negara lain mencatatkan perbaikan skor yang lebih tajam, sehingga memengaruhi posisi relatif Indonesia dalam daftar dunia.
Laporan WTI 2025 juga menyoroti sejumlah tren utama. Salah satunya adalah meningkatnya kerentanan anak muda dan remaja terhadap radikalisasi di era digital.
"Kami menemukan peningkatan dalam radikalisasi dan rekrutmen anak muda melalui platform digital. Kelompok ekstremis kini memanfaatkan media sosial, pesan terenkripsi, hingga fitur percakapan dalam gim daring (online games) untuk menyebarkan propaganda. Metode ini mempercepat proses radikalisasi karena berlangsung efektif, cepat, dan sulit terdeteksi oleh pengawasan konvensional," ungkap tim peneliti.
Selain itu, laporan menyoroti eskalasi serangan di sejumlah negara kawasan Afrika. Temuan lain adalah pengkategorian geng, kartel, dan kelompok kejahatan terorganisir sebagai organisasi teror.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan