Nada Balqis MY Wulan bersama tim di ajang Bandung Essay Competition 3. (um.ac.id)
INDOZONE.ID - Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Malang (FK UM) kembali raih prestasi di tingkat nasional.
Nada Balqis MY Wulan, mahasiswa angkatan 2023, menorehkan prestasi dengan meraih juara dalam dua ajang esai bergengsi sekaligus, yakni Festival Science Competition Neuroglia (FASCIA) 2026 dan Bandung Essay Competition 3.
Melalui kompetisi FASCIA 2026 yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Hang Tuah Surabaya, Nada mengangkat isu kanker serviks yang masih menjadi masalah serius di Indonesia, terutama di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).
Di kompetisi tersebut, Ia menyoroti rendahnya akses skrining sebagai salah satu faktor yang memperburuk kondisi tersebut.
Bersama timnya, Nada mengembangkan sebuah inovasi alat deteksi dini kanker serviks yang bersifat non-invasif dan mudah digunakan. Alat ini memungkinkan pemeriksaan dilakukan melalui sampel urine, sehingga lebih praktis dan nyaman bagi pasien.
Baca juga: Mahasiswa UMY Raih Juara 2 Mapres PTMA 2026, Angkat Isu Disabilitas Lewat KI-FEST
“Inovasi yang kami buat memungkinkan deteksi kanker serviks melalui urin, sehingga lebih praktis, tidak menimbulkan rasa malu bagi pasien, dan dapat digunakan tanpa harus ke laboratorium,” jelasnya.
Teknologi yang digunakan berbasis CRISPR dan dikemas dalam bentuk biosensor sederhana. Dengan teknologi ini, proses deteksi dini dapat dilakukan secara lebih cepat, efisien, dan menjangkau masyarakat dengan keterbatasan akses layanan kesehatan.
Selain itu, Nada juga terlibat dalam pengembangan inovasi lain bersama tim berbeda, yakni Imuno-Sense Patch. Alat ini memanfaatkan teknologi microneedle pintar untuk mendeteksi risiko penyakit autoimun melalui biomarker tertentu di tubuh.
Di balik prestasi tersebut, terdapat proses panjang yang tidak mudah. Dalam waktu sekitar satu bulan, Nada bersama timnya harus menyusun esai, merancang konsep alat, hingga menyiapkan materi presentasi. Menariknya, ia berperan sebagai ketua dalam dua tim itu sekaligus.
Baca juga: Sokong UMKM Lokal: Mahasiswa UB Ciptakan Teknologi Canggih, Kopi Susu Kini Bisa Tahan Lebih Lama
“Biasanya sebagai ketua tim saya mencari ide awal terlebih dahulu. Kemudian bersama tim mengembangkan karya, mulai dari esai, desain alat, poster, hingga presentasi,” tuturnya.
Ia mengaku, tantangan terbesar adalah membagi waktu di tengah padatnya aktivitas perkuliahan dan praktikum.
“Saya lebih memprioritaskan kuliah, lalu memanfaatkan waktu luang untuk mencicil pengerjaan lomba. Untuk lomba di Bandung, persiapannya cukup singkat karena dilakukan setelah ujian, tetapi tetap bisa memberikan hasil terbaik,” lanjutnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Um.ac.id