CHITO-CRISPR, alat deteksi kanker serviks karya mahasiswa UM. (um.ac.id)
INDOZONE.ID - Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Malang (FK UM) menghadirkan dua inovasi teknologi kesehatan berupa alat deteksi dini kanker serviks dan penyakit autoimun yang praktis dan terjangkau.
Inovasi ini dikembangkan oleh Nada Balqis MY Wulan bersama tim sebagai solusi atas keterbatasan akses diagnosis dini di masyarakat, khususnya di wilayah dengan fasilitas kesehatan terbatas.
Inovasi pertama berfokus pada deteksi dini kanker serviks, yang masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada perempuan di Indonesia.
Tingginya angka kasus kematian tersebut datang akibat keterlambatan diagnosis, baik karena keterbatasan fasilitas medis maupun faktor sosial seperti rasa tidak nyaman saat pemeriksaan.
Baca juga: UMS Kukuhkan Dua Guru Besar, Angkat Isu UMKM dan Mental Health
Untuk menjawab tantangan tersebut, Nada bersama Nauval Akhmadian Gelaner mengembangkan alat bernama CHITO-CRISPR, sebuah alat biosensor portabel yang mampu mendeteksi kanker serviks melalui sampel urin.
Teknologi ini dirancang agar dapat digunakan secara mandiri tanpa perlu peralatan laboratorium yang rumit.
“Melalui inovasi ini, kami ingin meningkatkan kesadaran perempuan untuk melakukan skrining sejak dini dengan cara yang lebih mudah dan nyaman,” tutur Nada.
IMUNO-SENSE PATCH, alat deteksi dini penyakit autoimun. (um.ac.id)
Selain itu, tim juga mengembangkan inovasi kedua bernama IMUNO-SENSE PATCH, yang difokuskan pada deteksi dini penyakit autoimun. Bersama Lintang Nirmalasari dan Hayu Salmadi, mereka menciptakan alat berbasis microneedle pintar yang terhubung dengan sistem pemantauan digital.
Baca juga: 10 Jurusan di UNPAD yang Sepi Peminat, Peluang Lolos Lebih Besar Lewat Jalur Mandiri!
Alat ini bekerja dengan mendeteksi biomarker tertentu yang berkaitan dengan gangguan sistem imun, sehingga memungkinkan identifikasi risiko penyakit sejak tahap awal. Dengan pendekatan ini, proses diagnosis diharapkan menjadi lebih cepat dan akurat.
Kedua inovasi tersebut dirancang dengan mempertimbangkan kondisi masyarakat yang memiliki keterbatasan akses layanan kesehatan, terutama di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).
Proses pengembangan kedua inovasi ini tidak instan. Nada dan tim harus melalui berbagai tahapan, mulai dari riset mendalam, pengembangan konsep, hingga diskusi intensif bersama dosen pembimbing.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Um.ac.id