INDOZONE.ID - Sebanyak tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) meraih Juara 1 kategori Industry Case Analysis Competition (I-CAC) dalam ajang I-CHALLENGE 2026 yang digelar di Universitas Brawijaya pada 9 - 10 Mei 2026.
Dalam kompetisi bertema pengolahan sumber daya berkelanjutan tersebut, tim mahasiswa Mikrobiologi ITB memperkenalkan inovasi pengolahan limbah batubara menjadi material baterai lithium-ion ramah lingkungan.
Tim bernama “SULE” itu beranggotakan Malika Fatima Lawe, Rufaida Khairina, dan I Dewa Ayu Andina Angelia. Tak hanya membawa pulang gelar juara nasional, Malika juga sukses meraih penghargaan Best Presenter berkat kemampuan presentasinya di hadapan dewan juri.
Kompetisi I-CHALLENGE 2026 sendiri diikuti sekitar 300 tim dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Akan tetapi, hanya 10 tim terbaik yang lolos ke babak final dan mempresentasikan inovasi dan solusi mereka secara langsung di Universitas Brawijaya.
Baca juga: Mahasiswa UNS Latih Warga Klaten Bikin Sabun Alami Dari Daun Pandan dan Jeruk Nipis
Pada kompetisi tersebut, tim SULE mengangkat inovasi bertajuk “FABA-Derived Silica and Alumina for Lithium-Ion Battery Anode and Separator Coating as a Renewable Energy Storage Solution in Indonesia”.
Mereka memanfaatkan limbah padat batubara berupa fly ash dan bottom ash (FABA) dari PT PLN Nusantara Power UP Paiton sebagai bahan baku pembuatan anoda silikon-karbon dan lapisan keramik alpha-alumina untuk baterai lithium-ion.
Menurut Malika, ide tersebut dipilih karena mampu menghubungkan persoalan limbah industri dengan kebutuhan pengembangan teknologi energi terbarukan di Indonesia.
Dalam proses pengembangannya, tim menggunakan beberapa metode seperti direct alkaline leaching, sintesis nano-silikon, hingga ammonium sulfate roasting untuk mengekstraksi material dari limbah FABA.
Hasilnya, material anoda yang dikembangkan diklaim mampu menghasilkan kapasitas hingga 1450,3 mAh/g, sementara separator alpha-alumina tetap stabil pada suhu mencapai 200 derajat Celsius.
Selain fokus pada aspek teknologi, tim SULE juga menyoroti dampak lingkungan dan ekonomi dari inovasi tersebut. Mereka menilai pemanfaatan limbah FABA dapat membantu mengurangi jutaan ton limbah industri sekaligus mendukung target Net Zero Emission 2060.
“Kami memilih topik ini karena berhasil menghubungkan krisis limbah industri hulu dan urgensi kemandirian teknologi renewable energy di hilir. FABA memiliki kandungan silika 20–24% dan alumina 19–28 persen, sehingga berpotensi menggantikan bahan impor,” tuturnya.
Selama babak final, peserta juga menjalani sesi pitching, presentasi poster, hingga diskusi langsung dengan juri dari kalangan akademisi dan industri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Itb.ac.id