Inisiator Gerakan STEM Indonesia Cerdas Dr. Stephanie Riady, memperkenalkan modul ajar kepada para guru sains dan matematika agar belajar lebih menyenangkan. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Prof. Abdul Mu’ti, M.Ed., mengapresiasi gerakan ini.
“Inisiatif ini menjadi bagian penting dari prioritas nasional. Indonesia Cerdas mendukung visi pertumbuhan ekonomi 8% dan pembangunan SDM yang mandiri," katanya di Jakarta.
Baca Juga: UPH Hubungkan Langsung Mahasiswa dengan Pegiat Pariwisata di HOSPITOUR 2025
Belajar Sains Tidak Harus Rumit
Menurut Stephanie, gerakan kolaboratif ini untuk menjawab tantangan nyata antara kesenjangan akses, kualitas, dan sumber daya dalam pendidikan STEM di Indonesia. Terutama di daerah tertinggal dan pada madrasah yang selama ini belum banyak tersentuh.
"Kami ingin mengubah cara pandang terhadap sainstek dan matematika," kata Stephanie, dalam kesempatan sama.
Ia menambahkan bahwa sains tidak harus rumit. Begitu juga dengan teknologi yang tidak harus mahal.
Apalagi belajar matematika tidak harus menakutkan. Justru sebaliknya, semua itu bisa dekat, terjangkau, relevan, dan menyenangkan bagi semua anak Indonesia.
“Hari ini kita memulai langkah awal yang penting, bukan sekadar seremoni, tetapi titik tolak dari sebuah gerakan bersama. Kita sedang membangun jejaring nasional pembelajar, karena sains tumbuh dari percakapan lintas disiplin dan eksperimen bersama,” ungkap wanita yang juga menjabat sebagai Direktur Eksekutif Riady Foundation ini.
STEM Indonesia Cerdas Bangun Ekosistem Pendidikan Berkelanjutan
Guru Besar Fisika di Institut Teknologi Bandung sekaligus Direktur Diseminasi Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Dr. Yudi Darma mengatakan, STEM Indonesia Cerdas adalah contoh nyata keberanian untuk melakukan lompatan strategis dalam membangun ekosistem pendidikan sains dan teknologi yang berkelanjutan.
Menurutnya hal ini bukan hanya karena skala dan pendanaannya, tetapi karena pendekatan kolaboratif yang mendekatkan inovasi teknologi pada kebutuhan riil masyarakat. Ini adalah model yang sangat relevan bagi negara berkembang dengan potensi besar seperti Indonesia.
Dengan anggaran operasional tahunan lebih dari Rp2 triliun, Riady Foundation terus berkomitmen untuk memajukan pendidikan, kesehatan, pembangunan manusia daerah terpencil.
Nah program ini diluncurkan dengan dukungan pendanaan sebesar Rp500 miliar, dan mulai di implementasikan pada kuartal ketiga tahun 2025. Melalui inisiatif ini, 10 juta siswa Indonesia ditargetkan untuk memberikan fondasi kecakapan AI dan STEM.
Baca Juga: Stephanie Riady Bicara soal Potensi Berkembangnya STEM di Indonesia
Pendidikan Adalah Warisan
Sementara itu, Pendiri Riady Foundation Dr. Mochtar Riady juga mengingatkan bahwa pendidikan adalah warisan terbaik yang bisa kita tinggalkan untuk generasi penerus.
“Saya mengajak seluruh keluarga Indonesia untuk berperan aktif. Anam-anak kita tidak hanya butuh mimpi, mereka butuh bekal untuk mewujudkannya,” ujar Dr. Mochtar.
Ia juga menekankan bahwa inisiatif ini merupakan salah satu upaya penting untuk menjawab tantangan global dan membangun solusi nasional. Apalagi perubahan global yang didorong oleh kecerdasan buatan dan transformasi digital menuntut kesiapan generasi muda. Tanpa inovasi dalam pendidikan, Indonesia berisiko tertinggal dalam kompetisi global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung