Dr. Stephanie Riady, B.A., M.Ed. - Presiden UPH & Direktur Eksekutif YPPH. (INDOZONE)
Pendiri Riady Foundation Dr. Mochtar Riady, menyebut bahwa pendidikan adalah warisan terbaik warisan untuk bangsa. Ia percaya bahwa pendidikan adalah investasi terbaik bagi masa depan Indonesia.
“Pendidikan adalah warisan terbaik yang bisa kita tinggalkan untuk generasi penerus. Saya mengajak seluruh keluarga Indonesia untuk berperan aktif. Anak-anak kita tidak hanya butuh mimpi, mereka butuh bekal untuk mewujudkannya,” ujar Dr. Mochtar Riady dalam keterangannya.
Selain itu, ekosistem pembelajaran di Indonesia pun terus berkembang.Salah satunya memanfaatkan metode STEM yang kuat dan berkelanjutan.
Dr. Mochtar Riyadi juga menjelaskan, STEM bukan hanya menjadi program, tetapi tumbuh sebagai gerakan nasional yang mengubah cara belajar dan berpikir anak-anak Indonesia.
Dengan pendekatan ini, generasi muda diharapkan dapat menghadapi masa depan dengan percaya diri dan memiliki keterampilan yang relevan di era digital, sehingga siap berkontribusi bagi bangsa.
Transformasi pendidikan berbasis STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) menjadi kunci bagi terwujudnya generasi unggul dan berdaya saing tinggi untuk mendukung Indonesia Emas 2045.
Baca Juga: UPH Hubungkan Langsung Mahasiswa dengan Pegiat Pariwisata di HOSPITOUR 2025
Dr. Stephanie Riady, B.A., M.Ed. - Presiden UPH & Direktur Eksekutif YPPH. (INDOZONE)
Anggota Tim Penasihat Ahli Kementerian Pendidikan Dasar Menengah (Kemendikdasmen) Dr. Stephanie Riady, B.A., M.Ed., menjelaskan, sains sejatinya adalah cara berpikir, yaitu bagaimana melihat persoalan, merumuskan solusi, dan mengubah pengetahuan menjadi tindakan.
Sayangnya, pembelajaran sains dan matematika di Tanah Air masih kerap terjebak pada pendekatan lama, seperti hapalan rumus, ujian pilihan ganda, dan minimnya praktik di kelas.
"Padahal, di tengah revolusi teknologi global, pendidikan berbasis STEM bukan lagi sekadar pilihan melainkan kebutuhan mendesak. Sebab dunia saat ini menuntut generasi muda yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan kolaboratif," ungkapnya.
Menurutnya, selama ini banyak siswa merasa asing dengan pelajaran STEM karena pendekatan pembelajarannya kurang membumi. Padahal, bidang ini memiliki potensi besar dalam membentuk pola pikir logis dan kreatif, yang sangat dibutuhkan di era kecerdasan buatan saat ini.
Dr. Stephanie mencontohkan negara-negara seperti Korea Selatan dan Finlandia yang telah membuktikan dampak positif dari investasi jangka panjang dalam pendidikan STEM. Korea Selatan, misalnya, telah menjadikan STEM sebagai prioritas sejak 1960-an dan kini menjadi salah satu negara dengan ekonomi berbasis teknologi tinggi. Finlandia pun dikenal luas dengan sistem pendidikan inovatif yang menekankan kreativitas dan pembelajaran lintas disiplin.
Baca Juga: Anak Hukum UPH Dorong Revisi KUHAP demi Peradilan Pidana yang Adil
Begitu juga dengan Vietnam, bisa menjadi contoh inspiratif dalam pembelajaran STEM. Mereka mereformasi kurikulum sejak 2010 dengan pendekatan berbasis proyek.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Wawancara