Ilustrasi siswa sedang belajar (AI/Gemini)
INDOZONE.ID - Kesejahteraan siswa di sekolah, atau yang dikenal dengan istilah school well-being, tidak hanya ditentukan oleh prestasi akademik semata.
Konsep ini mencakup aspek yang jauh lebih luas, mulai dari kondisi fisik lingkungan belajar, kualitas hubungan sosial, hingga dukungan emosional yang diterima siswa sehari-hari di sekolah.
Memahami faktor-faktor ini penting bagi guru, orang tua, maupun mahasiswa pendidikan agar dapat menciptakan lingkungan belajar yang benar-benar mendukung tumbuh kembang siswa secara utuh.
Salah satu kerangka yang sering dijadikan acuan dalam membahas kesejahteraan siswa adalah model yang dikembangkan oleh peneliti pendidikan asal Finlandia, Anne Konu dan Matti Rimpela.
Baca juga: Sekolah Negeri vs Swasta, Apa Saja Bedanya? Simak Penjelasannya
Model ini membagi school well being ke dalam empat kategori utama, having (kondisi sekolah, termasuk fasilitas fisik dan lingkungan belajar), loving (hubungan sosial di sekolah), being (kesempatan siswa untuk mengaktualisasikan diri), dan health (kondisi kesehatan fisik dan mental siswa).
Keempat aspek ini saling terkait dan memengaruhi satu sama lain dalam membentuk pengalaman siswa selama berada di sekolah.
Kondisi fisik sekolah menjadi fondasi dasar yang memengaruhi kenyamanan belajar siswa. Faktor seperti kebersihan ruang kelas, ventilasi udara yang baik.
Pencahayaan yang cukup, ketersediaan fasilitas sanitasi yang layak, hingga keamanan bangunan sekolah, semuanya berkontribusi terhadap rasa aman dan nyaman siswa selama beraktivitas.
Sekolah dengan fasilitas yang minim atau tidak terawat cenderung membuat siswa lebih mudah lelah, tidak fokus, bahkan enggan berlama-lama berada di lingkungan sekolah.
Selain itu, ketersediaan ruang terbuka untuk bermain dan bersosialisasi, seperti lapangan atau taman sekolah, juga berperan penting dalam memberikan ruang bagi siswa untuk melepas penat di sela-sela kegiatan belajar yang padat.
Kualitas pertemanan di sekolah menjadi salah satu penentu terbesar kesejahteraan emosional siswa. Siswa yang memiliki hubungan pertemanan yang sehat cenderung merasa lebih diterima, memiliki rasa percaya diri yang lebih baik, dan lebih termotivasi untuk terlibat aktif dalam kegiatan sekolah.
Sebaliknya, siswa yang mengalami perundungan (bullying), pengucilan sosial, atau konflik berkepanjangan dengan teman sebaya berisiko mengalami tekanan psikologis yang berdampak pada performa akademik maupun kesehatan mentalnya secara keseluruhan.
Selain hubungan antarsiswa, relasi antara siswa dan guru turut memengaruhi tingkat kesejahteraan siswa di sekolah. Guru yang mampu membangun komunikasi terbuka, bersikap adil, serta memberikan dukungan emosional selain pengajaran akademik, cenderung menciptakan iklim kelas yang lebih positif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: ANTARA, Ruang Guru