INDOZONE.ID - Departemen Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menggelar konferensi internasional tahunan, yaitu “International Seminar on Intelligent Technology and Its Application (ISITIA) 2025.
Konferensi ini diikuti oleh peserta dari berbagai negara, dan berlangsung selama tiga hari, sejak Rabu, 23 Juli 2025.
Dekan Fakultas Teknik Elektro dan Informatika Prof. Diana Purwitasari, menilai kalau ini adalah langkah nyata ITS buat mendukung inklusivitas lewat inovasi teknologi. Ia mengungkapkan, tantangan dalam inovasi teknologi karena adanya dominasi kelompok tertentu.
Baca juga: 12 Istilah dalam Dunia Kedokteran, Maba FK Wajib Banget Tahu!
“Untuk itu, perlu dorongan untuk mewujudkan kesempatan yang setara,” papar Diana.
Tahun ini, ISITIA 2025 mengangkat tema "Fostering Equal Opportunities for Breakthrough Technology Innovations". Diana negesin kalau kesetaran gak datang sendiri, tapi harus dirancang.
Acara ini juga diharapkan bisa menjadi jembatan buat memperluas relasi, apalagi melibatkan 10 negara dan 149 artikel ilmiah. Selain itu, kegiatan ini bisa jadi wadah untuk pengembangan teknologi.
Baca juga: Dorong BUMDes yang Profesional, Mahasiswa KKN Undip Perkenalkan Penyusunan SOP Organisasi
“ISITIA memperluas kesempatan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam penciptaan teknologi,” tambahnya.
Sejalan dengan itu, Guru Besar City University of Hong Kong Prof. Rosa, menyoroti tentang pentingnya data dalam pengembangan teknologi Kecerdasan Buatan (AI). Ia bilang kalau model data AI saat ini berasal dari basis barat, jadi bisa bias saat diterapkan di Asia.
“Keberagaman data adalah dasar untuk membangun sistem yang adil dan tidak bias,” tegasnya.
Bukan cuma itu, Rosa pun menggagas adanya integrasi AI dan Internet of Things (AIoT). Cara ini bertujuan untuk menciptakan layanan kesehatan yang lebih inklusif. Selain itu, pendekatan ini bisa menjangkau kelompok rentan, dan dari macam-macam latar belakang.
“Hal ini membuka jalan bagi teknologi yang benar-benar melayani semua kalangan,” tuturnya.
Guru Besar Teknik Elektro ITS Prof. Heri Suryoatmojo turut menyampaikan pendapat. Ia memperkenalkan konsep Virtual Power Plant (VPP), sistem manajemen energi untuk masa depan. VPP bisa digunakan untuk menghasilkan, menyimpan, dan berbagai energi mandiri, lewat platform cerdas berbasis IoT.
Baca juga: Pastikan Keamanan Jajanan, Mahasiswa KKN Undip Uji Keamanan Pangan di RW IV Tembalang
“Melalui ini, diharapkan ekosistem energi terbarukan dapat menjangkau komunitas lebih luas,” tutup Heri optimis.
Kegiatan ISITIA jadi bukti inklusivitas dalam praktek yang nyata, bukan sekadar konsep. Selain itu, dengan mengedepankan kesetaraan dalam inovasi bisa mendukung tercapainya SDGs, khususnya pada poin ke-9, ke-10, dan ke-17.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Its.ac.id