INDOZONE.ID - Desa Tedunan, Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak, memiliki berbagai potensi sumber daya alam yang melimpah, mulai dari pertanian, peternakan, perikanan, hingga kelautan. Salah satu potensi yang dapat disorot dari desa ini berasal dari sumber daya alam kelautannya. Potensi kelautan tersebut dikembangkan menjadi dua sektor usaha utama, yakni pergaraman dan pertambakan udang.
Banyak penduduk Desa Tedunan bekerja sebagai petani garam sekaligus petambak udang. Kedua pekerjaan tersebut merupakan satu kesatuan yang berjalan bergantian. Ketika musim kemarau, penduduk desa memulai bisnis garam mereka, sedangkan setelah kemarau berakhir dan hujan mulai turun, pembibitan udang pun dimulai. Jenis udang yang sering digunakan oleh warga Desa Tedunan adalah jenis udang vaname (Litopenaeus vannamei).
Dilansir dari buku Budi Daya Udang Vaname oleh Khairul Amri, udang vaname atau lebih dikenal di Indonesia dengan sebutan udang kaki putih merupakan jenis udang laut. Udang ini memiliki ukuran yang lebih kecil jika dibandingkan dengan udang laut lain seperti udang windu atau udang jrebung. Udang ini lebih sering dibudidayakan karena memiliki ketahanan yang tinggi terhadap penyakit, pertumbuhan yang cepat, tahan terhadap fluktuasi kondisi lingkungan, jangka waktu pembudidayaan yang lebih pendek, dan membutuhkan pakan yang lebih sedikit, sehingga menguntungkan bagi para pembudidayanya.
Baca juga: Warisan Rasa dari Sokowolu: Teh Sangan Dapat Panggung Lewat Inovasi KKN UNDIP
Di Desa Tedunan sendiri, udang vaname dibudidayakan bergantian dengan tambak garam. Budidaya udang dimulai setelah panen garam, sekitar bulan Agustus. Setelah hujan mulai turun, benur udang vaname mulai ditebar. Selain pada bekas tambak garam, udang juga dibudidayakan di tambak air payau yang sebelumnya digunakan sebagai lahan pertanian padi. Setelah padi dipanen, lahan tersebut dialihfungsikan menjadi tambak udang.
Masa pemeliharaan udang di Desa Tedunan biasanya berlangsung selama 60–70 hari. Selama masa ini, metode pemberian pakan udang berbeda-beda pada setiap petambak. Sebagian petambak membebaskan udang untuk mencari pakan alami, sebagian lainnya memberikan pupuk urea ke tambak untuk menumbuhkan lumut di tepian tambak sebagai sumber pakan tambahan. Tidak sedikit pula petambak yang memberikan pakan khusus kepada udang vaname. Namun, ada satu hal unik yang dilakukan oleh sebagian petambak, yakni penggunaan bahan penggemuk babi sebagai pakan udang, seperti yang diungkapkan oleh salah satu petambak, Pak Samsul Hilal, “Dulu aku tak kasih makan itu malah penggemuk babi.”
Dalam satu musim budidaya, udang vaname yang dipanen di Desa Tedunan bisa mencapai 2–4 kuintal. Hasil panen tersebut umumnya dijual dalam keadaan mentah langsung ke tengkulak khusus udang yang akan datang ke tambak saat udang sudah dipanen.
Meskipun hasil panennya menjanjikan, para petambak mengaku mengalami beberapa tantangan yang sering mereka hadapi. Salah satu masalah serius adalah kematian massal udang. Jika satu udang mati dalam tambak, potensi penularannya sangat tinggi dan dapat menyebabkan kematian seluruh isi tambak. Sayangnya, hingga kini masih belum ditemukan solusi atau obat dari fenomena ini. Selain itu, pencurian udang juga menjadi masalah lain yang sering dihadapi oleh para petambak.
Baca juga: Inovasi Mahasiswa UNDIP: Alat Ukur Tinggi Badan Otomatis untuk Posyandu Lansia
Meskipun demikian, sebagian besar warga tetap memilih untuk membudidayakan udang vaname. “Kalau windu emang enak, gede, tapi lama, enam bulan sekali panen. Kalau vaname itu dua bulan setengah. Dibanding windu satu kali panen, vaname sudah dua kali panen, jadi lebih efisien waktu,” ujar Samsul Hilal, salah seorang petambak udang.
Budidaya udang vaname menunjukkan potensi sumber daya alam yang melimpah di Desa Tedunan sekaligus menjadi sumber ekonomi lokal yang mampu memberdayakan masyarakat dan meningkatkan kesejahteraan warga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung