Selasa, 19 AGUSTUS 2025 • 13:05 WIB

Dorong Kewirausahaan, Mahasiswa Undip Beri Pendampingan UMKM dalam Produksi dan Labeling Produk Kesehatan

Author

Mahasiswa Undip beri pendampingan UMKM dalam produksi dan labeling Produk Kesehatan

INDOZONE.ID - Sebanyak 20-30 warga RW 01 Kelurahan Sambiroto, Kota Semarang, Jawa Tengah, antusias mengikuti "Pendampingan UMKM Dalam Produksi dan Labeling Produk Kesehatan." 

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Damara Tamisha Zarika, mahasiswa KKN-T 118 Undip Kelompok 3 akhir Juli lalu ini bertempat di wilayah RT 06. 

Kegiatan merupakan bagian dari program pemberdayaan masyarakat yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan warga dalam memanfaatkan potensi lokal sebagai produk kesehatan dan peluang ekonomi rumah tangga. 

Acara diawali dengan sesi pre-test untuk mengukur tingkat pengetahuan awal warga mengenai peraturan kemasan Pangan Olahan yang sesuai dengan PerBPOM. 

Baca juga: Tim Robotika ITS Sabet Gelar Juara di Kompetisi Robot Korea Selatan

Kuesioner disebar dan diisi secara langsung oleh peserta untuk mendapatkan gambaran pemahaman mereka sebelum menerima materi edukasi. 

Selanjutnya, dilakukan kegiatan pemaparan mengenai teknik pengemasan dan pelabelan produk teh daun kelor yang sudah dibuat di acara sebelumnya. 

Tujuan utama dari pemaparan materi ini supaya warga RW 01 Sambiroto dapat mengolah teh daun kelor dengan baik hingga siap dikemas dan diberikan label produk. 

Hal ini dilakukan sebagai bentuk solusi nyata pada kondisi warga yang mengetahui bagaimana mengolahnya, tetapi kurang memahami secara praktis cara pengemasan dan pelabelan yang benar. 

Terlebih lagi, pengemasan dan pelabelan yang benar dapat menjamin produk aman hingga ke tangan konsumen. 

Baca juga: Bantu Navigasi, Mahasiswa KKN UMM Pasang Plang Arah Jalan di Desa Tawing

Pemaparan materi dilakukan menggunakan booklet serta contoh produk teh daun kelor yang sudah dikemas dalam standing pouch dan ditempelkan label kemasan. 

Booklet materi berisi peraturan label untuk Produk Pangan Olahan menurut PerBPOM No 31 Tahun 2018 dan Pasal 67 PerBPOM No 20 Tahun 2021. 

Kedua peraturan tersebut menyebutkan label produk pangan olahan harus memuat nama olahan (nama dagang/merek dan nama jenis olahan), daftar bahan yang digunakan/komposisi, berat bersih/netto, nama pihak yang memproduksi, halal bagi yang dipersyaratkan, tanggal dan kode produksi, keterangan kadaluwarsa, nomor izin edar, dan asal usul bahan pangan tertentu. 

Sedangkan, pada demonstrasi kali ini digunakan standing pouch berukuran 10 x 17 cm yang dapat memuat 6 kantong teh.

Setelah edukasi dan pembagian 30 pack teh daun kelor, mahasiswa membagikan post-test yang berisikan soal sama seperti pre-test. 

Baca juga: Mahasiswa KKN-T IDBU 23 UNDIP Terapkan 5S dan K3, UMKM Desa Tedunan Kini Lebih Efisien dan Sehat!

Tujuan dari post-test adalah mengukur tingkat pengetahuan warga setelah diberikan edukasi mengenai pengolahan/produksi hingga pengemasan dan pelabelan produk teh daun kelor. 

Kemudian, mahasiswa juga membagikan formulir kesediaan warga yang ingin dibantu mengembangkan UMKM teh daun kelor dari produksi hingga pengemasan dan pelabelan. 

Hal ini dilakukan dengan harapan edukasi tidak berlalu begitu saja, melainkan bisa dilakukan seterusnya sebagai inovasi bagi pelaku UMKM maupun warga yang tertarik mengembangkannya. 

Pini, salah seorang warga RT 06 ingin mengolah pohon kelor miliknya menjadi teh daun kelor yang inovatif. 

Baca juga: Diversifikasi Atsiri, Teknologi AI, hingga Edukasi K3: Terobosan Mahasiswa KKNT-IDBU 61 UNDIP di KHDTK

Selama ini pohon kelor miliknya hanya diberikan ke tetangga yang meminta untuk diolah seperti sayur bening. Ia sendiri enggan mengonsumsinya. 

"Syukurlah ada program ini yang bisa menjadi inovasi olahan karena sebelumnya saya takut mengolahnya,” katanya.

Ke depan, ia ingin mengembangkan inovasi teh daun kelor secara bertahap dari konsumsi pribadi kemudian dibagikan ke kenalan atau warga sekitar sehingga dapat menjadi testimoni dan membentuk segmentasi konsumen yang minat. 

Hal ini sesuai dengan tujuan awal kami mengadakan program kerja ini, yakni diharapkan bukan menjadi sekadar program kerja, melainkan juga dapat dikembangkan menjadi inovasi dalam mengolah kekayaan alam yang dimiliki serta menjadi peluang usaha. 

Baca juga: Lewat Website dan Sosial Media, Mahasiswa Undip Bangun Digital Branding Batik Arum Cempaka

“Saya olah dulu sendiri, biar ga mubazir pohon kelornya dan dibagikan ke tetangga. Eh malah bisa jadi bermanfaat buat sekitar,” ujar Pini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU