INDOZONE.ID - Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) merintis sebuah gerakan anak muda, untuk atasi masalah sampah di Yogyakarta bernama Renou.
Gerakan ini membuat inovasi mengolah sampah limbah plastik menjadi produk mebel atau perabotan. Mereka berjumlah dua orang, dan berasal dari fakultas berbeda.
Ada Alan Putra Wijaya dari jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, dan Muhammad Fikri Ledfi Darmawan dari jurusan Teknik Infrastruktur Lingkungan, Fakultas Teknik.
Baca juga: Maba Masih Sepi? Ini Alasan PTS Malang Terpaksa Mundurkan Kalender Akademik
Renou adalah start-up yang bergerak di bidang pengolahan sampah plastik, khususnya High Destiny Polyethylene (HDPE). Sampah jenis ini banyak ditemukan pada kemasan deterjen, sampo, bahkan botol plastik.
Berawal dari Tugas Kuliah
Alan mengungkapkan bahwa gerakan ini berawal dari tugas mata kuliah di semester 4. Saat itu, beredar kabar kalau Yogyakarta sedang mengalami krisis sampah, ia pun berinisiatif buat kontribusi nyata dan langsung.
Baca juga: Kelebihan dan Tantangan Kuliah Online Bagi Mahasiswa
“Waktu itu ada program kemasyarakatan namanya srawung desa, kita belajar di desa pembuatan maggot. Di situlah muncul keinginan untuk ikut mengatasi krisis sampah melalui komunitas masyarakat,” ujar Alan.
Ia sadar, kalau sampah organik banyak banget di masyarakat, tapi belum banyak pengolahan sampah anorganik.
Asal Usul Nama Renou
Pemilihan nama Renou digunakan karena mudah diingat dan catchy. Selain itu, karena kata seperti eco, renewable, maupun green sudah banyak dipakai. Alan mengakui kalau penamaan ini adalah hasil brainstorming dengan Chat GPT.
“Karena kita sebenarnya bukan orang yang kreatif ya, jadi sempat kebingungan mencari nama. Awalnya renew kita ubah jadi Renou supaya lebih unik,” tambah Alan.
Baca juga: 5 Artis Indonesia yang Kuliah di Luar Negeri: Dari Maudy Ayunda hingga Cinta Laura
Proses Perencanaan Panjang
Dalam membuat start-up ini tentunya tidak mudah. Alan dan tim melakukan berbagai riset hingga empat bulan. Mulai mencari tahu tentang jenis plastik, memilah, mencari mitra, dan lain sebagainya.
Ia tidak melakukan sendiri, melainkan dengan tim profesional. Mereka juga mempelajari perlahan seperti apa pengolahan sampah dan bagaimana industrinya berjalan.
Kesulitan yang Dihadapi
Selain itu, partnernya yaitu Fikri, menjelaskan bahwa kesulitan dalam menjalankan Renou adalah mengumpulkan jenis sampah tersebut. Mereka harus bekerja sama dengan pemerintah daerah atau pihak tempat pembuangan sampah.
Baca juga: STAN vs STIN, Mana Lebih Favorit? Berikut Perbedaan, Jalur Masuk, hingga Prospek Kerja
“Untuk bikin satu produk itu membutuhkan 10-11 kilogram sampah tutup botol plastik. Tapi kan masih ada botolnya, itu tetap kita kirim ke mitra kami sehingga tidak menghasilkan sampah kembali,” ungkap Fikri.
Bukan cuma itu, residu bekas dari proses pengolahan bakal diolah menjadi barang-barang seperti gelang, kabinet, dan lainnya. Karena prinsip Renou yaitu mengolah limbah dengan tidak kembali menghasilkan limbah.
Kolaborasi Berbagai Pihak
Baca juga: Top Indonesian Law Schools 2025: Apresiasi Kampus Hukum Terbaik di Indonesia
Sebagai mahasiswa, keduanya terus berusaha untuk menjalankan usaha ini. Walaupun harus membagi waktu dengan perkuliahan. Oleh karena itu, ia berharap dan mengajak untuk mendukung keberlanjutan bisnis ini.
Mereka juga sadar, masalah ini tidak bisa diselesaikan sendiri, tapi harus ada kolaborasi dan sinergi berbagai sektor.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ugm.ac.id